Jokowi Minta Libur Panjang Dikurangi, Pakar Sarankan Ini agar Corona Tak Naik

Lisye Sri Rahayu - detikNews
Selasa, 24 Nov 2020 07:00 WIB
Kalender tahunan. dikhy sasra/ilustrasi/detikfoto
Ilustrasi (Dikhy Sasra/detikcom)
Jakarta -

Presiden Joko Widodo (Jokowi) meminta agar libur panjang akhir tahun dikurangi. Pakar epidemiologi memberikan beberapa masukan agar kasus virus Corona (COVID-19) tidak naik saat libur panjang.

Pakar epidemiologi dari Universitas Gadjah Mada, Riris Andono, menjelaskan kaitan antara libur panjang dengan penularan virus Corona. Dia menyebut libur panjang tidak akan berpengaruh pada peningkatan kasus Corona jika masyarakat tetap di rumah dan melaksanakan protokol kesehatan jika berpergian.

"Sebenarnya bukan liburnya, yang penting itu kan social distancing-nya. Kalau kemudian problemnya kan begini, libur itu diidentikkan dengan boleh pergi ke mana-mana. Padahal kan nggak, tapi libur kan libur bekerja bukan kemudian libur itu diterjemahkan kemudian boleh untuk pergi ke mana-mana, atau kemudian boleh berkumpul di mana-mana. Problemnya kan di situ," kata Riris kepada wartawan, Senin (23/11/2020).

Riris mengatakan penularan COVID akan meningkat pada libur panjang jika masyarakat pergi berlibur. Serta tidak menaati protokol kesehatan.

"Jadi isunya yang menyebabkan libur panjang itu menjadi libur panjang itu menjadi sumber penularan karena ada persepsi bahwa etika libur kemudian status social distancing itu tidak berlaku lagi. Problemnya di situ, libur lebaran, libur Idul Adha, libur kemerdekaan itu kemudian diterjemahkan waktunya untuk sama seperti liburan ketika belum ada COVID, " katanya.

Kalaupun harus pergi berlibur, Riris meminta agar masyarakat memilih tepat liburan di raung terbuka. Pada saat liburan, protokol kesehatan harus dilaksanakan.

"Itu yang menjadi masalah, padahal pesannya harus konsisten, libur tidak libur ya harus social distancing, kalau tidak perlu ya jangan keluar rumah. Kalaupun misalnya mau liburan carilah tempat yang tidak berkerumun dan menghindari kerumunan di tempat terbuka kalau bisa. Itu yang tidak diterjemahkan ketika membuat kebijakan libur," tuturnya.

Simak juga video 'Jokowi: Per 22 November, Rata-rata Kasus Aktif Covid-19 di RI 12,78%':

[Gambas:Video 20detik]