Round-Up

Dugaan Faktor Libur Panjang Saat Rekor Kasus Corona DKI Terpecahkan

Tim detikcom - detikNews
Minggu, 22 Nov 2020 20:38 WIB
Petugas PPSU Bukit Duri menyelesaikan pembuatan mural yang berisi pesan waspada penyebaran virus Corona di kawasan Bukit Duri, Jakarta, Senin (31/8/2020). Mural tersebut dibuat agar meningkatkan kepatuhan masyarakat dalam menerapkan protokol kesehatan saat beraktivitas karena masih tingginya angka kasus COVID-19. Jumlah kasus harian Corona di DKI Jakarta pada minggu 30 Agustus 2020 memecahkan rekor dan menembus lebih dari 1.100 kasus per hari.
Ilustrasi terkait virus corona di DKI Jakarta (Foto: Agung Pambudhy/detikcom)

Juru Bicara Satgas COVID-19 Prof Wiku Adisasmito menduga kenaikan kasus tersebut karena efek long weekend pada akhir Oktober lalu. Wiku mengatakan hal tersebut berkaca pada pengalaman pasca-libur panjang Idul Fitri, Idul Adha, dan Hari Kemerdekaan. Oleh karena itu, Wiku menilai rekor kasus Corona di Jakarta kemarin diduga karena efek libur cuti bersama.

"Efek suatu event yang menimbulkan kerumunan dan penularan, biasanya baru terlihat dampak peningkatannya (dengan asumsi testing dilakukan seperti biasanya) dalam 10-14 hari kemudian," kata Wiku.

"Jadi kalau sekarang meningkat itu kemungkinan terkait libur panjang 28 Oktober-1 November," imbuhnya.

Di sisi lain warga Ibu Kota turut menyuarakan sikap prihatinnya terkait ini. Tika (34), warga asal Jakarta Pusat, mengaku sangat prihatin atas kasus baru virus Corona di Jakarta yang mencetak rekor. Dia meminta Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI lebih fokus mengatasi masalah ini.

"Sangat memprihatinkan, seharusnya pemerintah lebih bisa fokus, sangat harus lebih fokus lagi untuk mengatasi masalah ini gitu kan," kata Tika kepada wartawan di Bundaran HI, Jakarta Pusat, Minggu (22/11/2020).

Tika mengatakan pemerintah harus lebih memperkuat lagi aturan-aturan di Ibu Kota. Bahkan bila perlu, kata Tika, dibuatkan aturan baru untuk menekan laju penyebaran virus Corona.

"Seharusnya lebih ketat lagi peraturannya, kalau bisa dibuat peraturan baru agar bisa menekan angka Corona," ungkapnya.

Wanita berusia 34 tahun ini meminta Pemprov DKI lebih memperketat aturan jika pembatasan sosial berskala besar (PSBB) transisi DKI kembali diberlakukan. Selain itu, Tika berharap Pemprov DKI menindak dan meniadakan kegiatan-kegiatan yang tidak bermanfaat yang menimbulkan kerumunan.

"Karena kalau kita perhatikan sendiri sekarang orang-orang sudah banyak yang WFO (work from office) juga kadang-kadang masih ada demo-demo juga. Jadi hal-hal yang tidak memberikan manfaat itu sebaiknya benar-benar ditiadakan saja," imbuhnya.

Ditemui selanjutnya, Santi (42), warga Jakarta Pusat, meminta Pemprov DKI lebih tegas menangani virus Corona. Terlebih, tindakan tegas itu diperlukan untuk mencegah adanya kerumunan-kerumunan.

"Pemerintah DKI harus tegas sih, kalau tidak tegas kayak gini, kayak kerumunan-kerumunan, kurang tegas," katanya.

Santi mengatakan masyarakat juga harus sadar diri akan pentingnya menjaga protokol kesehatan. Masyarakat harus selalu memakai masker dan senantiasa menjaga jarak.

"Kalau bagi masyarakat ya harus sadar diri saja, seperti pakai masker, jaga jarak," ucapnya.

Halaman

(dhn/dhn)