Perpustakaan Ditjen Ketenagalistrikan Gelar Bibliobattle, Apa Itu?

Abu Ubaidillah - detikNews
Kamis, 19 Nov 2020 20:14 WIB
Perpustakaan Direktorat Jenderal Ketenagalistrikan menggelar bibliobattle atau bedah buku secara online melalui webinar sekaligus perkenalkan bibliobattle.
Foto: Dok. Kementerian ESDM
Jakarta -

Perpustakaan Direktorat Jenderal Ketenagalistrikan Kementerian ESDM menyelenggarakan bibliobattle atau bedah buku secara online melalui webinar sekaligus memperkenalkan bibliobattle yang mungkin masih terdengar asing di Indonesia.

Kepala Bagian Hukum Perpustakaan Direktorat Jenderal Ketenagalistrikan, Winsisma Wansyah menyampaikan acara bedah buku ini adalah acara yang kedua kalinya diselenggarakan oleh Perpustakaan Ketenagalistrikan.

"Sebelumnya telah terselenggara acara yang sama namun dalam bentuk seminar dengan mengusung tema tentang program kendaraan listrik nasional. Pada kesempatan kali ini, Perpustakaan Ditjen Ketenagalistrikan menyelenggarakan acara bedah buku dalam bentuk Bibliobattle Series, yang artinya acara ini akan berkelanjutan ke depannya," ungkapnya dalam keterangan tertulis, Kamis (19/11/2020).

Winsisma juga mengatakan manfaat bibliobattle ini adalah meningkatkan literasi dan minat baca, berbagi pengetahuan, dan juga mengasah keberanian dalam kemampuan public speaking. Ia mengajak para peserta untuk memanfaatkan koleksi yang ada di Perpustakaan Ditjen Ketenagalistrikan yang di masa pandemi ini bisa dilakukan secara online dari internet dan media sosial.

"Kami harapkan pula melalui acara ini dapat menggairahkan minat baca di kalangan masyarakat luas, khususnya di lingkungan Ditjen Ketenagalistrikan," kata Winsisma.

Bibliobattle adalah sebuah permainan yang berasal dari Jepang yang melibatkan resensi buku. Permainan ini mengandung unsur kompetisi. Orang yang menyampaikan resensi buku dalam bibliobattle biasa disebut bibliobattler atau presenter waktu untuk diadu dengan bibliobattler lain di depan peserta.

Dalam presentasi menyampaikan resensi buku ini, bibliobatler berusaha menyampaikan dengan semenarik mungkin agar para peserta bisa tertarik untuk melakukan voting dan nantinya memilih untuk membaca buku yang disampaikan oleh bibliobattler. Peserta juga bisa berdiskusi melakukan tanya jawab dengan bibliobattler untuk lebih mengetahui isi buku yang disampaikan.

Dalam acara ini, ada 3 bibliobattler yang menyampaikan resensi buku secara online. Pertama adalah R. Andika Kurniawan yang menyampaikan resensi buku 'Innovating Out ot Crisis: How Fujifilm Survived (and Thrived) As Its Core Business Was Vanishing'. Ia bercerita tentang bagaimana Fujifilm sebagai salah satu perusahaan kamera terbesar di Jepang bertahan menghadapi pergantian era analog menjadi digital.

Kemudian ada bibliobattler lain, Anggita Miftah Hairani yang menyampaikan resensi buku 'Cerita dari Sudut Istana'. Ia menyampaikan buku ini menceritakan detail Istana Kepresidenan dalam menghadapi beberapa isu yang terjadi di masyarakat. Ia menyebut buku ini ditulis oleh Staf Ahli Madya bidang Komunikasi Politik dan Diseminasi Informasi Kantor Staf Presiden periode 2016-2019, Alois Wisnuhardana dan Jojo Raharjo.

"Buku ini menarik, selain karena ditulis oleh orang yang memang dekat dengan Istana, buku ini juga memberikan perspektif baru atas peristiwa yang terjadi," kata Anggita.

Bibliobattler ketiga, Ahmad Anshari menyampaikan resensi buku 'Ten Reasons We're Wrong About The World.. And Why Things Are Better Than You Think' yang menceritakan mengenai hal yang dipikirkan tentang dunia itu tidak selamanya benar, kadang hal yang dipikirkan buruk namun kenyataannya leih baik dari yang dipikirkan.

(akn/ega)