Survei Indikator Proyeksikan Kemungkinan 16% Warga Tangsel Golput

Nur Azizah Rizki Astuti - detikNews
Selasa, 17 Nov 2020 16:01 WIB
Petugas Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) dengan menggunakan alat pelindung diri (APD) mengawasi pemilih di bilik suara khusus saat simulasi pemungutan suara dengan protokol kesehatan pencegahan dan pengendalian COVID-19 di TPS 18 Cilenggang, Serpong, Tangerang Selatan, Banten, Sabtu (12/9/2020). KPU akan menyiapkan satu bilik suara khusus di setiap TPS yang diperuntukan bagi pemilih yang suhu tubuhnya diatas 37 derajat saat pemungutan suara Pilkada serentak 2020. ANTARA FOTO/Muhammad Iqbal/pras.
Ilustrasi simulasi Pilkada 2020 di masa pandemi. (Muhammad Iqbal/Antara Foto)
Jakarta -

Lembaga survei Indikator Politik Indonesia merilis hasil survei terkait Pilkada Tangerang Selatan (Tangsel). Indikator memetakan keinginan pemilih datang ke TPS pada Pilkada 9 Desember 2020.

Survei dilaksanakan pada rentang waktu 28 Oktober-3 November 2020 terhadap 820 responden warga Tangsel yang memiliki hak pilih pada Pilkada 2020. Metode pemilihan responden adalah multistage random sampling, sedangkan pengambilan data dilakukan melalui wawancara tatap muka.

Margin of error survei adalah 3,5 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen. Rilis survei Indikator juga menyertakan perbandingan survei Pilkada Tangsel pada periode Agustus dan Oktober 2020.

Responden diberi pertanyaan 'Dalam situasi wabah virus Corona (COVID-19) hingga saat ini, seberapa besar kemungkinan Ibu/Bapak datang ke TPS untuk menggunakan hak suara?'. Hasilnya, ada 81,9 persen responden mengaku besar kemungkinan datang ke TPS, sementara 16,3 persen responden mengaku kecil kemungkinan datang ke TPS karena faktor pandemi.

"Orang cenderung mengatakan akan datang meskipun faktanya belum tentu mereka akan datang ke TPS. Tetapi setidaknya dengan format pertanyaan ini ada 16 persen lebih warga Tangsel yang mengatakan sangat kecil atau kecil kemungkinan datang," kata Direktur Eksekutif Indikator Burhanuddin Muhtadi dalam rilis survei, Selasa (17/11/2020).

Menurut Burhan, hal ini bisa menjadi perhatian bagi penyelenggara pemilu untuk memperbaiki proses penyelenggaraan pilkada. Ia khawatir angka golput di Tangsel meningkat pada Pilkada di masa pandemi COVID-19 ini.

"Kalau penyelenggara pemilu tidak mengantisipasi ini, dan bagi warga Tangsel yang peduli kesehatan itu tidak dianggap tidak mengirim gesture atau sinyal yang positif terkait dengan kesehatan, bisa jadi golputnya lebih besar karena faktor pandemi ini," ujar Burhan.

"Kalau misalnya makin tidak terkendali, baik proses kampanye maupun proses pencoblosannya, misalnya acara-acara kegiatan keagamaan makin serampangan tanpa aturan yang memadai, bisa jadi orang makin takut," imbuhnya.

Indikator juga memetakan persepsi warga Tangsel terkait politik uang. Simak di halaman selanjutnya. >>>

Selanjutnya
Halaman
1 2