Skandal Korupsi Rp 173 M, Hukuman Eks Dirut PLN Dinaikkan Jadi 7 Tahun

Andi Saputra - detikNews
Kamis, 12 Nov 2020 15:10 WIB
Mantan Dirut PLN Nur Pamudji menjalani sidang lanjutan kasus korupsi. Ia didakwa jaksa melakukan korupsi dalam pengadaan BBM jenis High Speed Diesel (HSD).
Mantan Dirut PLN Nur Pamudji (Foto: Ari Saputra/detikcom)
Jakarta -

Hukuman mantan Dirut PLN Nur Pamudji diperberat dari 6 tahun penjara menjadi 7 tahun penjara oleh Pengadilan Tinggi (PT) Jakarta. Nur dinilai melakukan tindak pidana korupsi secara bersama-sama sehingga merugi Rp 173 miliar.

Kasus itu terjadi pada 2010. Kala itu, Nur Pamudji adalah Direktur Energi Primer PLN. Pada 2012, Nur Pamudji menjadi Dirut PLN.

Saat itu, dilakukan pengadaan barang yang dilakukan PLN untuk BBM jenis High Speed Diesel (HSD) demi memenuhi kebutuhan pembangkit listrik tenaga gas dan uap di Muara Tawar, Tambak Lorok, Gresik dan Grati, Belawan, serta Tanjung Priok dan Muara Karang.

Dirut PT TPPI Honggo Wendratno mengetahui rencana PLN tersebut. Lalu Honggo melakukan perbuatan sedemikian rupa dengan maksud agar PT TPPI bisa menjadi rekanan PLN untuk memasok BBM jenis HSD. Namun rangkaian perbuatan itu membuat PLN jebol ratusan miliar rupiah.

Pada 2015, kasus ini dibidik Mabes Polri dan Nur Pamudji jadi tersangka. Setelah bertahun-tahun berkas disidik Mabes Polri, akhirnya kasus ini masuk ke PN Jakpus.

Pada 13 Juli 2020, PN Jakpus menjatuhkan hukuman 6 tahun penjara dan denda Rp 200 juta subsider 6 bulan kurungan kepada Nur Pamudji karena dinilai korupsi secara bersama-sama.

Tiga hari setelahnya, Nur Pamudji melalui pengacaranya mengajukan banding. Jaksa tidak tinggal diam dan mengajukan hal serupa. Apa kata Pengadilan Tinggi (PT) Jakarta?

"Menjatuhkan pidana oleh karena itu terhadap Terdakwa Nur Pamudji dengan pidana penjara selama 7 tahun dan pidana denda sejumlah Rp 300 juta, dengan ketentuan apabila denda tersebut tidak dibayar, maka diganti dengan pidana kurungan selama 6 bulan," ujar ketua majelis James Butarbutar, Kamis (12/11/2020).

Putusan itu dibacakan (12/11) siang ini. Duduk sebagai anggota majelis Daniel Dalle Pairunan, Achmad Yusak, Lafat Akbar dan Hening Tyastanto. Selain itu, majelis juga merampas untuk negara barang bukti uang:

1. Uang Rp 140,7 miliar
2. Uang Rp 8,7 miliar
3. Uang Rp 23,8 miliar

Majelis menyatakan perbuatan terdakwa memiliki peran signifikan, dalam hal terjadinya tindak pidana yang sangat merugikan keuangan negara.

"Dampak perbuatan Terdakwa mengakibatkan kerugian keuangan negara, sedangkan pengembalian kerugian negara bukanlah atas dasar secara sukarela dilakukan oleh Terdakwa, melainkan atas pengembalian yang diselamatkan oleh Negara, namun apabila dipertimbangkan nilai kerugian negara yang didakwakan oleh Penuntut Umum dengan nilai pengembalian yang yang dirampas untuk Negara, maka nilai kerugian negara termasuk kategori sedang," beber majelis.

Apa alasan majelis hakim memperberat hukuman Nur Pamudji? Selanjutnya>>>

Selanjutnya
Halaman
1 2