Cerita Saksi soal Upaya Loloskan Hiendra Penyuap Nurhadi Lolos dari Hukum

Zunita Putri - detikNews
Rabu, 11 Nov 2020 20:25 WIB
Eks Sekretaris Mahkamah Agung (MA) Nurhadi kembali diperiksa penyidik KPK. Nurhadi menjadi tersangka terkait suap dan gratifikasi penanganan perkara di MA.
Mantan Sekretaris MA Nurhadi (Ari Saputra/detikcom)
Jakarta -

Mantan Sekretaris Mahkamah Agung (MA) Nurhadi didakwa menerima suap berkaitan perkara yang dia tangani di sejumlah pengadilan. Perkara-perkara yang ditangani Nurhadi dari tingkat pengadilan pertama hingga tingkat PK.

Jaksa KPK lantas mengonfirmasi perkara yang ditangani Nurhadi dan menantu Rezky Herbiyono yang berkaitan dengan Hiendra Soenjoto selaku Direktur Utama PT Multicon Indrajaya Terminal (PT MIT). Jaksa mengonfirmasi perkara itu kepada kakak Hiendra yang bernama Hengky Soenjoto.

Awalnya, jaksa bertanya mengenai kasus Azhar Umar dengan Hiendra Soenjoto. Diketahui Azhar Umar ini pada 2015 menggugat Hiendra di PN Jakarta Pusat terkait akta nomor 116 tertanggal 25 Juni 2014 tentang Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) PT MIT.

Kasus inilah yang disebut jaksa ditangani oleh Nurhadi dan Rezky Herbiyono. Keduanya menangani kasus gugatan ini dari sejak di PN Jakarta Pusat dan di tingkat Pengadilan Tinggi DKI.

Hengky mengaku kenal dengan Azhar Umar selaku Direktur Keuangan PT Multicon Group. Di sidang, Hengky kemudian menceritakan perselisihan antara Hiendra dan Azhar Umar, di mana Hiendra pernah mendekam di penjara karena dilaporkan Azhar Umar.

"Saya detailnya nggak jelas, cuma waktu itu sempat ada masalah di Polda, kemudian Hiendra sampai ditahan di Polda, Pak. Waktu itu saya baru bantu adik saya, karena posisi beliau di penjara, cuma awal mulanya kenapa sampe ribut saya nggak tahu, Pak," kata Hengky saat bersaksi di PN Tipikor Jakarta, Jalan Bungur Besar Raya, Jakpus, Selasa (11/11/2020).

Saat Hiendra dipenjara, Hengky mengaku diminta Hiendra menghubungi sejumlah orang yang memiliki link orang di kepolisian. Hengky mengaku diminta menghubungi orang dekat Kepala BIN Budi Gunawan (BG) dan M Iriawan alias Iwan Bule, yang saat itu menjabat Kapolda Metro Jaya, dan Rezky Herbiyono.

"Ya, saya diminta sama Hiendra menghubungi beberapa orang, termasuk ada yang namanya Pak siapa namanya... Pak Haji Bakrie... Haji Bakrie tuh tokohnya orang Madura, Pak. Beliau kan dekat sama Iwan Bule ya sebagai Kapolda," kata Hengky.

"Kemudian ada lagi saya minta tolong sama adiknya Pak BG (Budi Gunawan), kemudian minta tolong sama Mas Rezky juga, Mas Rezky-nya Pak Nurhadi," tambah Hengky.

Hengky mengaku tidak pernah meminta tolong langsung kepada Nurhadi karena tidak saling kenal. Dia hanya meminta tolong melalui Rezky.

"Terkait Rezky, apa alasan Saudara kenapa minta tolong sama Rezky?" tanya jaksa KPK Wawan Yunarwanto.

"Saya nggak tahu Pak, saya sudah dimintain sama Pak Hiendra untuk ngomong, bisa nggak 'minta tolong saya ini dibantu supaya saya ini jangan dipenjara'," jawab Hengky.

Hengky lantas menyebut pernah diceritakan Hiendra kalau Nurhadi ini kenal dekat dengan Budi Gunawan. Oleh karena itu, Hiendra meminta Hengky menghubungi orang dekat BG, Nurhadi, dan Iwan Bule.

"Jadi Pak Hiendra cerita kalau Pak Nurhadi kenal sama Pak BG, Budi Gunawan ya Pak, jadi saya suruh sampaikan saja. Jadi itu cuma minta tolong ya, Pak," ucap Hengky.

"Mungkin Pak Hiendra tahu Pak kalau Rezky kenalannya banyak di polisi atau bapaknya kenalannya banyak, makanya saya dimintai tolong seperti itu," imbuhnya.

Namun pada akhirnya Hengky mengatakan rencana 'minta tolong' itu tidak terwujud. Hiendra tetap dipenjara dan sudah dijatuhi vonis di pengadilan.

"Ya saya cuma ngomong aja, ngomong ke Mas Rezky, bisa nggak saya minta tolong supaya adik saya nggak dipenjara. Setelah itu ya sudah, nggak ada beritanya, Mas, sampai akhirnya adik saya pelimpahan P21 di kejaksaan, divonis, menjalani hukuman," sebutnya.


Jaksa Konfirmasi BAP Hengky soal Upaya Hukum Hiendra Soenjoto

Selain itu, jaksa di sidang mengkonfirmasi berita acara pemeriksaan (BAP) Nomor 52 kepada Hengky. Dalam BAP itu, Hengky mengungkapkan kedekatan Hiendra dengan Marzuki Alie dan Seskab Pramono Anung.

"Saya bacakan BAP 52, Saudara jelaskan awalnya antara Hiendra Soenjoto dan Marzuki Alie sangat dekat, tapi setelah Hiendra Soenjoto melawan Azhar Umar, saya pernah dimintai tolong oleh Hiendra agar disampaikan ke Marzuki Alie agar disampaikan ke Pramono Anung, Menteri Sekretaris Negara saat itu, agar penahanan Hiendra ditangguhkan. Hal itu disampaikan di kantor Hiendra di kompleks pergudangan saat pertemuan saya pertama dengan Marzuki Alie, namun pada saat itu Hiendra tidak bisa keluar tahanan juga," kata jaksa mengkonfirmasi BAP yang diamini oleh Hengky.

Hengky juga membenarkan BAP-nya yang menyebut Hiendra menawarkan surat utang sebesar Rp 110 miliar untuk menggantikan Azhar Umar, yang menjabat Komisaris PT MIT. Namun tidak jadi karena Hiendra meminjam uang ke Marzuki Alie senilai Rp 6-7 miliar digunakan untuk mengurus perkara Hiendra.

Dalam persidangan ini, yang duduk sebagai terdakwa adalah Nurhadi dan Rezky Herbiyono. Nurhadi dan Rezky didakwa menerima suap dan gratifikasi Rp 83 miliar terkait pengurusan perkara di pengadilan tingkat pertama, banding, kasasi, ataupun peninjauan kembali. Nurhadi dan Rezky didakwa menerima suap dan gratifikasi dalam kurun waktu 2012-2016.

Uang suap ini diterima Nurhadi dan Rezky dari Hiendra Soenjoto selaku Direktur Utama PT Multicon Indrajaya Terminal (PT MIT) agar keduanya membantu Hiendra dalam mengurus perkara. Jaksa menyebut tindakan Nurhadi itu bertentangan dengan kewajibannya sebagai Sekretaris MA.

(dhn/fjp)