Ini Alasan Hakim Hukum 200 Bulan Penjara ke Pemerkosa Bocah di Aceh

Agus Setyadi - detikNews
Rabu, 11 Nov 2020 16:12 WIB
Ilustrasi Pencabulan Anak. Andhika Akbarayansyah/detikcom.
Ilustrasi (Andhika Akbaryansyah/detikcom)
Banda Aceh -

Seorang petani di Aceh Singkil, Aceh, dihukum 200 bulan penjara karena terbukti memperkosa anak di bawah umur. Hakim menilai hukuman penjara itu memulihkan kondisi psikis korban.

Dikutip detikcom dari putusan Mahkamah Syar'iyah (MS) Aceh, Rabu (11/11/2020), majelis hakim MS Aceh memperkuat putusan MS Aceh Singkil yang menghukum terdakwa dengan hukuman 200 bulan penjara. Persidangan dipimpin majelis yang diketuai Rafi'uddin, dengan hakim anggota Syaifuddin dan Paet Hasibuan.

Dalam pertimbangannya, majelis hakim mengatakan Pasal 50 Qanun Aceh Nomor 6 Tahun 2014 tentang Hukum Jinayat memuat ketentuan bahwa setiap orang dengan sengaja melakukan jarimah pemerkosaan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 48 terhadap anak diancam dengan 'uqubat ta'zir cambuk paling sedikit 150 kali, paling banyak 200 kali, atau denda paling sedikit 1.500 gram emas murni, paling banyak 2.000 gram emas murni, atau penjara paling singkat 150 bulan, paling lama 200 bulan.

Majelis menilai hukuman penjara yang dijatuhkan terhadap terdakwa berusia 52 tahun itu setara dengan dua hukuman lain. MS Aceh menyatakan sependapat dengan jenis hukuman yang diketuk MS Singkil.

"Menimbang, bahwa berdasarkan fakta yang terungkap di persidangan, saksi korban mengalami trauma dan takut bertemu dengan terdakwa dan merasa malu sehingga untuk memulihkan kondisi psikis korban perlu waktu agar tidak bertemu dengan terdakwa atau ditemui terdakwa, sehingga pemilihan hukuman cambuk dan denda dinilai tidak memberikan rasa keadilan hukum bagi korban. Sebab terdakwa dengan mudah dan bebas bertemu atau menemui saksi korban, keluarga korban dan masyarakat mengakibatkan trauma, rasa malu, dan rasa takut sulit hilang. Karenanya, majelis hakim Mahkamah Syar'iyah Aceh sependapat dengan majelis hakim Mahkamah Syar'iyah Singkil yang menetapkan 'uqubat penjara," kata hakim dalam pertimbangannya.

"Berdasarkan pertimbangan-pertimbangan tersebut di atas, majelis hakim Mahkamah Syar'iyah Aceh berkesimpulan pendapat putusan Mahkamah Syar'iyah Singkil Nomor 10/JN/2020/MS.Skl. tanggal 21 Mahkamah Agung Republik Indonesia September 2020 Miladiyah, bertepatan dengan tanggal 4 Safar 1442 Hijriah harus dikuatkan," sambung majelis hakim.

Dalam persidangan, majelis memutuskan menerima banding yang diajukan.

"Menguatkan putusan Mahkamah Syar'iyah Singkil Nomor 10/JN/2020/MS. Skl tanggal 21 September 2020 Miladiyah, bertepatan dengan tanggal 4 Safar 1442 Hijriah," ketuk hakim.

Sebelumnya, terdakwa berusia 52 tahun itu terbukti memperkosa anak berusia 9 tahun pada Juli lalu. Kasus pemerkosaan itu berawal saat terdakwa menjemput korban di rumahnya untuk jalan-jalan menggunakan motor.

Dalam perjalanan setelah membeli es krim, terdakwa membawa korban ke tempat sepi. Setelah menyuruh turun dari motor, terdakwa memperkosa korban. Kasus itu pun dilaporkan ke polisi dan terdakwa diadili.

Di Mahkamah Syar'iyah Aceh Singkil, majelis hakim memvonis terdakwa dengan hukuman 200 bulan penjara. Putusan itu sesuai dengan tuntutan jaksa penuntut umum (JPU).

Simak video 'Bejat! Oknum Guru di Polman Perkosa Ponakan Sendiri':

[Gambas:Video 20detik]



(agse/idn)