Blak-blakan Muhammad Lutfi

Joe Biden, China, dan 4 Alasan RI Penting Bagi AS

Deden Gunawan - detikNews
Rabu, 11 Nov 2020 07:01 WIB
Jakarta -

Sepanjang sejarahnya, baik Partai Republik maupun Demokrat di Amerika Serikat tak pernah melupakan nilai-nilai dasar kemanusiaan termasuk penegakan hukum, kebebasan memilih, dan kebebasan berpendapat. Di era kepemimpinan Donald Trump sebagai representasi Republik, nilai-nilai tersebut tak pernah menjadi pertanyaan dari masyarakat.

"Kalau pun dianggap ada perbedaan, hanya caranya tapi tujuan yang ingin dicapai sebetulnya sama," kata Duta Besar Indonesia untuk AS, Muhammad Lutfi kepada detik.com, Selasa (10/11/2020).

Dia melihat, Trump sebetulnya cukup berprestasi dalam membangun perekonomian AS. Salah satu indikasinya, jumlah pengangguran di AS pernah berada di titik terendah yang belum pernah terjadi sebelumnya. Demikian juga dengan pertumbuhan di lantai bursa seperti di Dow Jones. Hal itu berkat terobosan kerja sama perdagangan antara lain dengan Meksiko dan Kanada, serta melakukan perang dagang dengan China.

"Tapi prestasi tersebut berubah drastis ketika terjadi pandemi Covid-19, tiba-tiba muncul 40 juta pengangguran baru. Faktor ini yang ikut membuat Trump kalah dari Joe Biden," kata Lutfi yang pernah menjadi Dubes RI di Jepang pada 2010-2013.

Terkait hubungan AS dengan China ke depan di bawah Biden yang akan dilantik sebagai Presiden AS per 20 Januari 2021, para ahli yang dekat dengan Partai Republik maupun Demokrat punya penilaian sama. Bagi mereka, China tak cuma sebagai pesaing utama tapi juga merupakan ancaman.

Sebagai sahabat kedua negara, Indonesia berkepentingan agar persaingan kedua negara adi daya itu tidak sampai menjadi peperangan. "Dari 16 persaingan (hegemoni) dua negara di dunia, cuma empat yang tak berakhir dengan peperangan. Kita berharap ini pun tidak akan sampai seperti itu," kata Lutfi.

Secara khusus, dia optimistis hubungan antara AS dengan Indonesia akan tetap baik. Bagaimana pun, kata lelaki kelahiran 16 Agustus 1969 itu, Indonesia punya arti penting bagi AS. Keduanya punya kesamaan nilai-nilai dan norma-norma, yakni sebagai negara demokrasi yang terbuka dan bebas, menjunjung tinggi nilai-nilai hukum (rule of law), memberikan kebebasan bagi rakyatnya untuk memilih, dan mengemukakan pendapat.

"Kesamaan nilai itulah yang menjadi dasar bagi kedua negara untuk saling berinteraksi, siapapun yang menjadi pemimpinnya baik di masa lalu, sekarang, maupun yang akan dating," papar Muhammad Lutfi.

Selengkapnya, saksikan Blak-blakan di detik.com, Rabu (11/11/2020).

(jat/eva)