Ketua IDI Bali Bantah Larang dr Tirta Beri Kesaksian di Sidang Jerinx

Angga Riza - detikNews
Selasa, 10 Nov 2020 18:48 WIB
Sidang Jerinx SID dilanjutkan dengan agenda pleidoi. Jerinx menyebut IDI Bali melarang dr Tirta memberi kesaksian untuk meringankannya (Angga Riza/detikcom)
Sidang Jerinx SID dilanjutkan dengan agenda pleidoi. Jerinx menyebut IDI Bali melarang dr Tirta memberi kesaksian untuk meringankannya. (Angga Riza/detikcom)

Sebelumnya, Jerinx 'SID' menyebut dr Tirta dilarang pihak IDI Bali memberikan kesaksian untuk meringankan. Padahal, lanjutnya, Tirta adalah rekan berdiskusinya di media sosial sebelum dia terjerat kasus 'IDI kacung WHO'.

"Sebenarnya dokter Tirta hadir sebagai saksi yang meringankan saya di sini, namun oleh dokter Putra Suteja, Ketua Umum IDI Bali, beliau ditelepon, ditekan, diancam untuk tidak datang kemari untuk tidak boleh membantu saya, tidak boleh meringankan saya, tidak boleh ikut campur. Ini bagi saya yang sangat lucu," kata Jerinx dalam persidangan saat menyampaikan pembelaan, Selasa (10/11).

Lebih lanjut Jerinx juga menyampaikan bahwa dr Tirta sudah mengajukan saran kepada IDI Bali agar kasus 'IDI kacung WHO' ditempuh lewat jalur mediasi. Selain itu, Jerinx memaparkan bahwa tak hanya dr Tirta yang menyarankan jalur mediasi.

"Karena tadi saya bicara lumayan ada waktu bicara sama dr Tirta dari awal permasalahan saya bersama IDI ini dr Tirta sudah berkali-kali mengajukan saran kepada dr Putra Suteja agar ditempuh jalur mediasi, bukan hanya dr Tirta yang memberi saran untuk mediasi, ada IDI Tabanan, ada IDI Gianyar juga," ujar Jerinx.

"Jadi dan dr Putra Suteja dengan kakunya berkata dengan dr Tirta beliau berkata 'tidak ada maaf', beliau berkata demikian. Dokter Tirta ada saksinya beliau berkata demikian, tidak ada kata maaf bagi Jerinx," sambungnya.

Sementara itu, Tirta menjelaskan memang sempat ingin memberikan kesaksian meringankan di sidang Jerinx. Namun Tirta mengatakan tidak diperkenankan datang dengan alasan nanti debat antarteman sejawat.

"Dan akhirnya kemarin saya sempat, ya ada isulah saya ingin menjadi saksi meringankan karena saya ingin sharing apa yang dilakukan Bli Jerinx dari berbagi pangan dan edukasi COVID, termasuk soal rapid. Lalu sebelum keberangkatan, saya ditelepon Pak Teja dan mengatakan, kalau bisa, nggak usah datang ke sidang karena kesannya nanti sesama teman sejawat akan berantem. Jangan jadi saksi meringankan," kata Tirta kepada wartawan, Selasa (10/11).

"Sebenarnya dia itu mengatakan jangan jadi saksilah, nanti kita lucu kalau sesama sejawat saling berdebat. Ya sudah, saya nggak mau ribut dan nggak mau berdebat dengan senior. Ya saya ngalah aja," kata Tirta.

Tirta mengaku kehadirannya dalam sidang Jerinx dukungan sebagai teman. Tirta menilai tuntutan 3 tahun dari jaksa kepada Jerinx terlalu berat.

Saat ditanya terkait ancaman yang disebut Jerinx, Tirta berbicara soal kode etik. Karena itu, dia mengaku juga menghargai keputusan organisasi.

"Kalau ancaman sih jujur saja kalau kita berdebat dengan teman sejawat mungkin kaitannya kode etik khasnya akan seperti itu. Jadi kan kalau teman sejawat berdebat, itu kan kaitannya kode etik. Karena di kode etik ada suatu etika harus menghargai teman sejawat, maka saya di sini harus menghargai keputusan organisasi dan Pak Suteja, jadi saya di sini individual," tegasnya.

Dalam kasus ini, jaksa penuntut umum (JPU) menuntut Jerinx 'SID' 3 tahun penjara dan denda Rp 10 juta. JPU menilai terdakwa Jerinx 'SID' telah melakukan tindak pidana ujaran kebencian.

"Menjatuhkan pidana terhadap terdakwa I Gede Ari Astina alias Jerinx dengan pidana penjara selama 3 tahun dan denda sebesar Rp 10 juta subsider 3 bulan kurungan dikurangi selama terdakwa ada dalam tahanan dengan perintah tetap berada dalam tahanan," kata JPU Otong Hendra Rahayu dalam pembacaan tuntutan, Selasa (3/11).

"Bahwa terdakwa I Gede Ari Astina alias Jerinx telah terbukti secara sah dan meyakinkan menurut hukum bersalah melakukan tindak pidana dengan sengaja dan tanpa hak menyebarkan informasi yang ditujukan untuk menimbulkan rasa kebencian atau permusuhan individu dan/atau kelompok masyarakat tertentu berdasarkan atas suku, agama, ras, dan antargolongan yang dilakukan secara berlanjut," ucap Otong.

Jaksa penuntut umun mengacu pada Undang-Undang tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE) dalam dakwaan pertama. Dalam kasus ini, Jerinx dijerat Pasal 28 ayat 2 juncto Pasal 45 ayat 2 UU ITE juncto Pasal 64 ayat 1 KUHP.

Halaman

(jbr/idh)