Di Sidang Eksepsi, Irjen Napoleon: Saya Merasa Dizalimi

Zunita Putri - detikNews
Senin, 09 Nov 2020 13:04 WIB
Irjen Napoleon Bonaparte menjalani sidang pembacaan surat dakwaan. Irjen Napoleon didakwa menerima suap Rp 6 miliar terkait penghapusan status buronan Djoko Tjandra.
Foto: Ari Saputra/detikcom
Jakarta -

Terdakwa Irjen Napoleon Bonaparte di sidang pembacaan eksepsi atau nota keberatan mengaku merasa dizalimi. Napoleon menyebut banyak tuduhan-tuduhan miring terkait kasus penghapusan DPO Joko Soegiarto Tjandra alias Djoko Tjandra.

"Terima kasih, yang saya hormati hakim Yang Mulia, penuntut umum dan penasihat hukum, kesempatan hari ini sudah lama saya tunggu-tunggu, Yang Mulia, dari bulan Juli sampai hari ini, saya merasa dizalimi melalui teks oleh pemberitaan pemberitaan statement pejabat negara yang salah tentang tuduhan menghapus red notice," ujar Napoleon saat diberi kesempatan hakim menambahkan eksepsi dalam sidang di PN Tipikor Jakarta, Jalan Bungur Besar Raya, Jakpus, Senin (9/11/2020).

"Karena sebagai Kadivhubinter Polri yang dulu juga mantan Sekretaris NCB Interpol Indonesia. Kami yang paling tahu kerja Interpol," sambungnya.

Napoleon mengaku siap membuktikan setiap tuduhan terkait red notice. Dia juga mengaku tidak pernah menerima uang dari Djoko Tjandra melalui Tommy Sumardi.

"Tuduhan-tuduhan tersebut membuat kami tidak mungkin menyampaikan jawaban karena hanya akan dianggap pembenaran diri. Kesempatan ini kami tunggu untuk menyampaikan apa yang dieksepsi, tuduhan penerimaan uang saya siap untuk dibuktikan didasari rencana untuk menzalimi kami sebagai pejabat negara," ucapnya.

Selain itu, dalam eksepsi yang dituangkan tim pengacara Napoleon menyebut penghapusan nama Djoko Tjandra di DPO bukanlah kewenangan Napoleon. Dia juga menyebut red notice Djoko Tjandra sudah terhapus sejak 2014.

Selanjutnya
Halaman
1 2