4 Desa di Blitar Sabet Penghargaan soal Nilai Pancasila

Nurcholis Maarif - detikNews
Jumat, 06 Nov 2020 16:39 WIB
Blitar
Foto: dok. Pemkab Blitar
Jakarta -

Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) memberikan penghargaan kepada Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Blitar dan empat desa di Blitar. Penghargaan tersebut merupakan program elevasi penerapan nilai-nilai Pancasila.

Pemkab Blitar mendapat penghargaan sebagai Lembaga Penggerak Pancasila melalui kerukunan antarumat beragama. Sedangkan empat desa di Kabupaten Blitar meraih penghargaan Kampung Pembakti Pancasila berdasarkan empat kategori.

Wakil Kepala BPIP Prof Haryono mengatakan penganugerahan penghargaan ini sebagai realisasi program elevasi nilai-nilai Pancasila. Program elevasi mengangkat sesuatu yang positif agar energi positif bisa berpengaruh kepada pihak lainnya dan menganggap Pancasila sebagai laku hidup, tidak sebatas untuk hafalan saja atau retorika.

"Selama ini, nilai-nilai Pancasila yang tidak bisa diaplikasikan dengan baik adalah nilai keteladanan. Dengan memberikan apresiasi kepada beberapa desa dan Pemkab Blitar ini, kami berharap bisa menjadi teladan bagi daerah lainnya," ujar Haryono dalam keterangan tertulis, Jumat (6/11/2020).

Haryono melihat pemerintah dan warga Kabupaten Blitar tidak sekadar menerapkan nilai-nilai Pancasila sebatas retorika. Namun sudah diaplikasikan sebagai aktivitas keseharian atau dialog kerja. BPIP menemukan Kabupaten Blitar sebagai contoh elevasi itu baik dari perseorangan, komunitas maupun pemerintah daerahnya.

"Masyarakat Indonesia butuh keteladanan. Dalam program elevasi ini kami ingin mengangkat contoh-contoh baik ini menjadi sumber energi positif. Kita sudah 75 tahun merdeka. Kenapa Pancasila belum menjadi laku keseharian, dan itu PR kita bersama," tandasnya.

Pjs Bupati Blitar, Budi Santoso mengaku bangga dengan capaian warga Kabupaten Blitar. Ia menyebut tak hanya Kampung Mudjair, Kampung Wisata Serang, ataupun Kampung Bhinneka, tetapi banyak inovasi lain yang jadi hasil karya anak Bumi Bung Karno ini.

"Kita punya kampung coklat, kampung jenang, dan kampung bubur. Sekarang tinggal mengganti mindset kita, mengembangkan jiwa entrepreneur di kalangan milineal dan meningkatkan kualitas dan kuantitas ekspor hasil karya mereka," pungkasnya.

Sebagai informasi, kategori Kampung Inovatif dianugerahkan kepada Desa Papungan Kecamatan Kanigoro dengan Kampung Mudjairnya. Pak Mudjair selaku penemu ikan Mudjair dinilai mampu membuat sejarah dengan melakukan inovasi genetik mengubah ikan laut menjadi ikan air tawar.

Berawal dari sejarah itu, banyak warga lain yang tergerak melakukan inovasi baru. Seperti temuan padi varietas PIM setinggi dua meter oleh Boing Kristiawan, seorang staf PL Dinas Pertanian Pemkab Blitar. Temuan-temuan itu atas dasar gotong royong yang tinggi antarwarga untuk kemaslahatan bersama.

Kategori Kampung Ekologis dianugerahkan kepada Kampung Puspo Jagad di Desa Semen Kecamatan Gandusari. Kampung ini menjadi rujukan banyak pihak untuk mengembangkan SDM berbasis lokal.

Berawal dari beberapa pemuda yang gelisah akan masa depannya. Dengan semangat gotong royong, mereka menyulap Kampung Puspo Jagad menjadi wahana ekologis pengembangan SDM berbasis kearifan lokal. Di sini semua pengunjung bisa menikmati makanan khas desa dan menginap di rumah warga.

Kategori Kampung Bhinneka dianugerahkan kepada Desa Budaya Gaprang Kecamatan Kanigoro. Desa yang rukun dan damai ini cerminan nilai Pancasila Bhinneka Tunggal Ika.

Di desa ini, mereka tinggal di sebuah jalan yang bernama Masgapur. Kependekan dari masjid, gereja, dan pura. Tiga tempat ibadah agama ini memang berada di satu jalan itu. Warga saling menghargai dan menjaga jika satu di antara agama itu melaksanakan ibadahnya. Selain itu terdapat budaya bersih desa, yang mencerminkan terjaganya nuansa kebhinekaan antar warga desa.

Sedangkan untuk kategori Kampung Penggerak Pancasila dianugerahkan kepada Desa Wisata Serang Kecamatan Panggungrejo. Desa Serang dahulunya adalah desa terbelakang. Namun kini menjadi sangat terkenal bahkan menjadi ikon destinasi wisata Kabupaten Blitar.

Membangun wilayah ini berawal dari keinginan sang kepala desa yang progresif. Dengan tagline Dari Desa Untuk Negeri, sosok Dwi Handoko Pawiro dinilai mampu membangun semangat kegotong-royongan menjadi budaya untuk kembali untuk mengangkat derajat ekonomi warga desanya.

"Prosesnya sangat panjang. Dibutuhkan semangat kerja dengan hasil yang nyata bisa dirasakan warga. Karena gotong royong sudah mulai tergerus oleh banyak kepentingan atas dasar kebutuhan pribadi," kata Handoko.

"Penghargaan ini jadi semangat untuk menjadi bekal selanjutnya untuk menerapkan nilai-nilai Pancasila. Ini sebagai tanggung jawab laku hidup, yang outputnya untuk kesejahteraan dan kemakmuran masyarakat Serang," imbuhnya.

(prf/ega)