Komisi I: Selama Kritik Badru soal Ibu Hamil Ditandu Bukan Hoax, Jadi Masukan

Nur Azizah Rizki Astuti - detikNews
Kamis, 05 Nov 2020 15:37 WIB
Ketua DPP Partai Golkar Meutya Hafid
Meutya Hafid (Jefrie/detikcom)
Jakarta -

Komisi I DPR merespons kasus pria asal Lebak, Banten, bernama Badru yang mengunggah foto ibu hamil ditandu di jalan rusak dan dipermasalahkan pemerintah desa. Selama unggahan itu tak mengandung unsur berita bohong, Komisi I DPR menilai seharusnya hal itu bisa menjadi masukan bagi pemerintah setempat.

"Selama kritiknya wajar dan bukan berita bohong, harusnya tidak ditahan. Dianggap masukan saja agar ibu hamil dapat terlayani baik," kata Ketua Komisi I DPR Meutya Viada Hafid kepada wartawan, Kamis (5/11/2020).

Menurut Meutya, penegak hukum seharusnya bisa memeriksa dengan benar apakah unggahan Badru mengandung unsur berita bohong atau tidak. Persoalan unggahan Badru dinilainya tidak perlu dibawa ke ranah pidana.

"Penegak hukum agar dapat memeriksa secara benar. Berita bohong memang tidak boleh, tapi kritikan apalagi yang menyangkut layanan untuk ibu hamil, harusnya dapat dijadikan masukan, tidak perlu dibawa ke pidana," ujar Meutya.

Sebelumnya, Badrudin atau Badru, pria asal Lebak, Banten, harus menginap selama dua hari di markas polisi. Gara-garanya, ia mem-posting foto seorang ibu hamil ditandu warga yang berjalan beberapa kilometer karena jalan rusak. Ia dibawa kepala desa ke kantor polisi lantaran dinilai mencemarkan nama baik.

Badru kemudian posting video dan foto proses evakuasi ibu hamil itu di Facebook (FB) miliknya pada akun Badry Aliansyah. Ia menuliskan bahwa selama 75 tahun merdeka tapi belum merasakan akses infrastruktur yang layak. Akibat jalan yang buruk, seorang ibu bahkan harus ditandu pakai bambu dan dibungkus sarung.

Unggahan itu ternyata membuat berang pihak pemerintah desa. Pada Senin (2/11), ia kemudian dibawa ke balai desa dengan kawalan RT dan langsung dibawa ke Polsek Panggarangan. Berdasarkan keterangan pihak keluarga, kepala desa tidak terima atas video yang viral tersebut, bahkan dinilai mencemarkan nama baik.

Setelah dua hari mendekam di kantor polisi, Badru kemudian dibebaskan pada Rabu (4/11), pukul 16.30 WIB. Ia dijemput oleh pihak keluarga. Polisi menolak adanya istilah pembebasan atas pemuda tersebut karena tidak melakukan penahanan, meski Badru dua hari ada di kantor polisi.

"Siapa yang nahan, siapa yang bebas ini. Emang nggak dikeluarin, nggak ditahan, nunggu keluarganya yang menjemput. Tadi sudah dijemput, makanya baca di media sosial," ucap Kapolsek Panggarangan AKP Rohidi dengan nada tegas.

(azr/ibh)