Marinir dan Demonstran

Sejarah: Aksi Simpatik Marinir Tangani Demo 1998 Sempat Dihinggapi Fitnah

Danu Damarjati - detikNews
Minggu, 01 Nov 2020 11:52 WIB
Pasukan Marinir TNI AL kerap mengamankan demonstrasi di Jakarta secara efektif tanpa kekerasan. Berikut adalah catatan kemesraan pasukan baret ungu dan demonstran.
Ilustrasi, tidak berhubungan langsung dengan cerita sejarah yang tercantum di berita. (Dok detikcom)
Jakarta -

Aksi simpatik Korps Marinir dalam menangani demonstran ternyata sudah dikenal sejak 1998. Berkat deteksi cepat, fitnah keji tidak berhasil memecah belah aparat pada era penuh dinamika kala itu.

Pendiri tabloid DeTik yang dibredel di era Orde Baru dan tabloid DeTak, Eros Djarot dkk, menuliskan catatan soal marinir di buku 'Misteri Supersemar'.

Jelang lengsernya Presiden Soeharto, aksi demonstrasi marak terjadi. Setiap kali pasukan Angkatan Darat (AD) dan kepolisian mengadang demonstran, yang muncul adalah ketegangan. Namun aktivis pro-reformasi bersimpati terhadap pasukan Marinir Angkatan Laut (AL).

23 Mei 1998, evakuasi ribuan mahasiswa yang menduduki Gedung DPR/MPR nyair berakhir dengan kekerasan. Namun ketika Marinir turun tangan, kekerasan berhasil dihindarkan.

"Teriakan 'hidup marinir!' acap kali membahana. Peristiwa serupa juga tampak ketika terjadi gelombang aksi demonstrasi pada saat berlangsung Sidang Istimewa MPR pada bulan November 1998. Pasukan Marinir dipuja-puji sementara pasukan AD ramai dicerca, dicaci-maki, bahkan ditimpuki batu," tulis Eros Djarot dkk dalam buku itu.

Saat itu, AD memang lekat dengan Orde Baru, rezim yang mencoba ditumbangkan demonstran. AD mendominasi segala lini Orde Baru. Inilah sebabnya demonstran era reformasi cenderung lebih bersimpati bila ditangani oleh Marinir AL.

"Dalam keadaan seperti itulah sikap yang dilakukan oleh prajurit Marinir menemukan makna politik yang tinggi. Nuansa politik yang berkembang di seputar langkah simpatik Marinir tersebut adalah potret dari hubungan yang tidak harmonis antar angkatan di ABRI," tulis Eros Djarot dkk.

Setelah 32 tahun menduduki jabatan sebagai Presiden RI, Soeharto akhirnya menyerah. Pada tanggal 21 Mei 1998, tepat 20 tahun lalu, Soeharto resmi mundur.Ilustrasi suasana reformasi, Mei 1998 (Dok)

Pasukan Marinir menghadapi demonstran dengan sikap bersahabat. Prajurit baret ungu menangani massa tidak dengan senjata terkokang di depan, tetapi justru disimpan di balik punggung.

Selanjutnya, simak kesaksian Mantan Pangdam Jaya dan Pangkostrad Letjen (Purn) Djaja Suparman soal isu adu domba:

Tonton juga 'Bujukan Marinir Bubarkan Massa Aksi di Patung Kuda':

[Gambas:Video 20detik]

Selanjutnya
Halaman
1 2