Eks Bupati Talaud Dieksekusi ke Lapas Anak Wanita Tangerang

Farih Maulana Sidik - detikNews
Senin, 26 Okt 2020 20:38 WIB
Bupati nonaktif Talaud Sri Wahyumi Maria Manalip kembali jalani pemeriksaan lanjutan di KPK. Ia nampak mengumbar senyum saat meninggalkan gedung KPK.
Sri Wahyumi Maria Manalip (Pradita Utama/detikcom)
Jakarta -

Jaksa KPK mengeksekusi mantan Bupati Kepulauan Talaud nonaktif, Sri Wahyumi Maria Manalip, ke Lapas Anak Wanita Tangerang. Sri Wahyumi akan menjalani hukuman penjara 2 tahun.

"Jaksa eksekusi KPK Leo Sukoto Manalu telah melaksanakan putusan Peninjauan Kembali No.270PK/Pid.Sus/2020 tanggal 25 Agustus 2020 atas nama Terpidana Sri Wahyuni Maria Manalip dengan cara memasukkan ke Lembaga Pemasyarakatan Anak Wanita Tangerang untuk menjalani pidana penjara selama 2 tahun dikurangi selama berada dalam tahanan," kata plt juru bicara KPK, Ali Fikri, kepada wartawan, Senin (26/10/2020).

Hukuman bui 2 tahun itu diberikan setelah Mahkamah Agung (MA) mengabulkan permohonan peninjauan kembali (PK) Sri Wahyumi dari 4 tahun 6 bulan. Ali mengatakan eksekusi dilakukan pada hari ini. Ali juga menyebut Sri Wahyumi telah melunasi pembayaran denda sebesar Rp 200 juta.

"Terpidana juga telah melunasi pembayaran denda sebesar Rp200 juta dan telah disetorkan ke kas negara sebagai bagian asset recovery pada hari Jumat (2/10/2020)," ujar Ali.

Dalam kasus ini, KPK telah menetapkan tiga tersangka, yakni Sri Wahyu, Benhur, dan Bernard Hanafi Kalalo. Sri diduga menerima sejumlah barang mewah dan uang suap dari Benhard melalui Benhur.

Barang-barang mewah itu diduga sebagai pemberian suap dari Bernard untuk Sri demi mendapatkan proyek di Talaud. Proyek yang dimaksud, menurut dugaan KPK, adalah dua proyek revitalisasi pasar di Kabupaten Kepulauan Talaud, yaitu Pasar Lirung dan Pasar Beo.

Sejumlah barang yang diterima Sri adalah tas tangan Chanel senilai Rp 97.360.000, tas Balenciaga senilai Rp 32.995.000, jam tangan Rolex senilai Rp 224.500.000, anting berlian Adelle Rp 32.075.000, cincin berlian Adelle Rp 76.925.000, serta uang tunai senilai Rp 50 juta.

(fas/idn)