Ular di Budaya Jawa

Mitos Siluman Ular di Keraton Yogyakarta, Sesajennya Jenewer dan Candu

Danu Damarjati - detikNews
Sabtu, 24 Okt 2020 08:34 WIB
Keraton Yogyakarta
Foto ilustrasi Keraton Yogyakarta (Bagus Kurniawan/detikom)
Jakarta -

Ular menampakkan diri di Keraton Yogyakarta pada malam Jumat. Ular memang menjadi simbol sarat makna di budaya Jawa. Bahkan ada mitos soal siluman ular yang menjaga Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat.

Dikutip dari buku 'Problematika Tugu Yogyakarta dari Aspek Fungsi dan Makna' karya Lutse Lambert Daniel Morin, mitos ini berlatarkan periode Pangeran Mangkubumi (Hamengkubuwana I) yang mencari lokasi pusat pemerintahan.

Alkisah, Pangeran Mangkubumi, yang bertempat tinggal di Pesanggrahan Ambarketawang, sedang mencari calon lokasi keraton sebagai pusat pemerintahan. Saat itu, Perjanjian Giyanti yang membelah Mataram baru saja diteken.

Pangeran Mangkubumi ingin keraton barunya berada di antara dua sungai supaya kondusif untuk irigasi pertanian serta punya garis imajiner Gunung Merapi dan Laut Selatan. Dipilihlah Desa Pacethokan di tengah hutan Paberingan (hutan beringin). Daerah ini diapit Sungai Code di timur dan Sungai Winongo di barat.

Hutan beringin tersebut dijaga dua ekor ular naga. Nama dua naga itu adalah Kiai Jaga dan Kiai Jegot (kadang ditulis Kiai Jegod).

Simak video 'Malam Jumat Kliwon, Ular Melingkari Pilar Bangsal Keraton Yogya':

[Gambas:Video 20detik]



Selanjutnya
Halaman
1 2