Round-Up

Kunjungan PM Jepang ke Indonesia Bikin China Waspada

Tim detikcom - detikNews
Rabu, 21 Okt 2020 22:47 WIB
Kunjungan PM Jepang ke Indonesia: China Anggap Sebagai Ancaman
Kunjungan PM Jepang ke Indonesia. (Foto: ABC Australia)
Jakarta -

Pertemuan Presiden Joko Widodo (Jokowi) dengan Perdana Menteri (PM) Jepang Yoshihide Suga disambut sejumlah pengamat di China. China mewaspadai lawatan Jepang ke RI.

Suga tiba di Istana Bogor bersama istrinya, Mariko Suga, pukul 16.00 WIB, Selasa (20/10). Jokowi mengatakan kunjungan ini bertujuan memperkokoh kerja sama antara Indonesia dan Jepang. Jokowi juga mengatakan ini merupakan kunjungan pertama Suga setelah dilantik pada September lalu.

Merespons hal ini, sejumlah pengamat di China menyebut kunjungan PM Suga ke Vietnam dan Indonesia menandakan bahwa Jepang secara aktif mulai membantu dan memastikan strategi Indo-Pasifik untuk menahan pengaruh China di kawasan Asia Tenggara.

Media milik Partai Komunis China, The Global Times, melaporkan para pengamat juga khawatir kesepakatan yang dibuat oleh Jepang di Asia Tenggara justru akan mengancam stabilitas perdamaian di kawasan.

The Global Times mengutip pernyataan Da Zhigang, direktur dan peneliti dari Institute of Northeast Asian Studies di Heilongjiang Provincial Academy of Social Sciences, yang mengatakan kesepakatan militer malah akan meningkatkan kesulitan untuk mencapai konsensus multilateral atas sengketa Laut China Selatan.

Kerja sama militer antara Jepang dan Vietnam, misalnya, sudah berlangsung lama. Tetapi, menurutnya, langkah kali ini sudah 'terlalu jauh' dan akan berpengaruh pada hubungan Jepang dan China.

Zhigang berpendapat Jepang boleh saja meningkatkan hubungannya dengan negara-negara Asia Tenggara melalui etika diplomatik, tetapi Jepang tidak bisa menggantikan China di ASEAN. Terlebih dalam konteks pandemi COVID-19 dan kondisi ekonomi di kawasan tersebut.

Sementara itu, Kuni Miyake dari Canon Institute for Global Studies, yang juga penasihat khusus kabinet PM Suga, pernah menulis opini di media Jepang bahwa perdana menterinya jauh lebih fasih berbicara soal China tanpa harus menyebutkan nama negaranya dibandingkan pemerintahan Shinzo Abe sebelumnya.

Menanggapi sejumlah pengamat China itu, Ketua Komisi I DPR RI Meutya Hafid menilai sah-sah saja. Dia mengatakan tak perlu ada kekhawatiran atas lawatan PM Jepang itu.

"Hal tersebut bukan pandangan China sebagai negara, bukan disampaikan oleh pemerintah China, namun sebagai pengamat, sah-sah saja penilaian pengamat," kata Ketua Komisi I DPR RI Meutya Hafid kepada wartawan, Rabu (21/10/2020).

Meutya mengatakan tidak perlu ada yang dikhawatirkan dari pertemuan Indonesia dengan Jepang kemarin. Politikus Partai Golkar itu menjelaskan kedua negara telah lama berelasi dan melakukan kerja sama.

Selanjutnya
Halaman
1 2