Kajari Jaksel Jamu Irjen Napoleon-Brigjen Prasetijo Dinilai Penuh Tanda Tanya

Ibnu Hariyanto - detikNews
Senin, 19 Okt 2020 06:19 WIB
Peneliti Pukat UGM, Zaenur Rohman, Kamis (16/5/2019).
Foto: Peneliti Pukat UGM, Zaenur Rohman (Usman Hadi/detikcom)
Jakarta -

Kepala Kejaksaan Negeri Jakarta Selatan (Kajari Jaksel) Anang Supriatna menjamu makan siang para tersangka kasus red notice Djoko Tjandra, Irjen Napoleon Bonaparte dan Brigjen Prasetijo Utomo. Pusat Kajian Anti Korupsi (PUKAT) Fakultas Hukum UGM mempertanyakan perihal jamuan yang diberikan kepada para tersangka.

"Jamuan terhadap terdakwa dalam kasus korupsi suap-menyuap ini, menurut saya memang penuh tanda tanya," kata peneliti Pukat UGM, Zaenur Rohman saat dihubungi, Minggu (18/20/2020).

Ia mempertanyakan apakah benar jamuan itu bagian dari SOP saat pelimpahan berkas di kejaksaan. Sebab, ia mengaku baru mengetahui jika pelimpahan berkas di kejaksaan ada prosesi jamuan makan siang.

"Apakah benar jamuan itu memang SOP di kejaksaan ketika pelimpahan para tersangka beserta barang bukti berkasnya? Jika memang itu SOP di kejaksaan apakah hal itu dilakukan kepada yang sama dengan tersangka lainnya? Saya baru tahu kalau di kejaksaan ada kebiasaan seperti itu jamuan kepada tersangka yang dilimpahkan ke kejaksaan dan dilakukan oleh pimpinan," sebutnya.

"Kalau itu bukan SOP kejaksaan dan tersangka lain tidak diberlakukan sama, ini suatu yang tidak biasa dan spesial, suatu yang khusus," lanjutnya.

Selain itu, ia juga menyoroti alasan Kejaksaan Negeri Jakarta Selatan soal pemberian jamuan itu karena tidak memiliki cukup waktu memesan nasi kotak. Padahal, menurutnya, pemberitahuan pelimpahan berkas sudah dilakukan sejak pagi.

"Alasan tidak ada nasi kotak padahal pelimpahan di kejaksaan sudah dari jam 9 pagi. Artinya masih cukup waktu gitu untuk misal mau persiapkan pengadaan konsumsi, nasi kotak, itu harusnya bisa dilakukan sejak pagi," tuturnya.

Sebelumnya diberitakan, isu mengenai para tersangka kasus Djoko Tjandra diberi jamuan makan siang oleh Kepala Kejaksaan Negeri Jakarta Selatan (Kajari Jaksel) Anang Supriatna ramai diperbincangkan. Pemberian makan siang itu terjadi pada Jumat (16/10) saat proses pelimpahan berkas dan tersangka kasus penghapusan status red notice Djoko Tjandra.

Awalnya, informasi mengenai jamuan makan siang ini disampaikan oleh kuasa hukum Brigjen Prasetijo Utomo, Petrus Bala Pattyona di akun Facebook-nya. Petrus juga menggunggah foto bersama para tersangka.

Namun, Petrus membantah adanya perlakuan khusus kepada kliennya. Menurutnya, pemberian makan itu biasa dilakukan tuan rumah kepada tamunya.

"Ada yang komen seolah-olah kasus ini istimewa dan mendapat perlakuan khusus, sehingga perlu saya luruskan bahwa makan siang yang disediakan karena memang sudah jam makan, ada yang menjalankan ibadah salat dan makan siang seperti ini. Biasanya, bila advokat mendampingi klien, baik di kepolisian, kejaksaan atau KPK, apabila sudah jam makan, pasti tuan rumah menawarkan makan untuk tamunya," papar Pertrus dalam Facebook-nya.

Anang Supriatna kemudian mengklarifikasi soal jamuan makan siang itu. Ia menyebut selaku tuan rumah bisa menyiapkan makan siang untuk tersangka hingga jaksa penuntut umum.

"Jadi begini, itu kan para terdakwa semua, baik JPU dari pukul 09.00 WIB pagi sampai 14.00 WIB siang kan. Kami selaku tuan rumah itu biasa, standar, menyiapkan makan siang," kata Anang saat dimintai konfirmasi, Minggu (18/10).

Anang menerangkan pemberian makan siang itu tidak dikhususkan untuk para tersangka. Menurutnya, pemberian makan itu salah satunya atas pertimbangan keamanan.

Bahkan, menurutnya, tim jaksa juga diberi makan siang. Adapun makanan yang disajikan, yakni nasi soto.

"Tidak hanya para terdakwa, tetapi juga ada pengacara. Faktor keamanan juga, supaya nggak ke sana-ke mari," terangnya.

Tonton video 'Irjen Napoleon Akan Buka-bukaan Soal Kasus Red Notice':

[Gambas:Video 20detik]



(ibh/rfs)