BPIP Sebut Intoleransi Timbul karena Pemahaman Budaya yang Kurang Utuh

Tim detikcom - detikNews
Senin, 12 Okt 2020 01:54 WIB
Romo Benny Susetyo CNN IndonesiaSafir Makki
Romo Antonius Benny Susetyo (Foto: Pool)
Jakarta -

Kementerian Agama mengadakan pertemuan dengan Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) dan tokoh agama katolik dalam rangka dialog kerukunan umat beragama. BPIP dalam kesempatan itu sempat memaparkan soal intoleransi.

Pertemuan dengan tema 'Umat Rukun, Indonesia Maju: Terwujudnya masyarakat Indonesia yang Rukun Menuju Indonesia Maju mengenai Penguatan Literasi Keagamaan Katolik' dihadiri lebih dari 80 tokoh agama Katolik nasional di Indonesia. Awalnya Staf Khusus BPIP, Antonius Benny Susetyo membahas soal sila pertama Pancasila terkait hubungannya dengan beragama.

"Ketuhanan yang Maha Esa dijadikan sila pertama karena membela kebenaran, keadilan, kejujuran. Ini yang harus menjadi titik tolak dalam kehidupan. Selian itu, sejak lahir bangsa Indonesia sudah terbiasa dan menjadi roh bagi bangsa Indonesia," ujar Benny dalam keterangannya, Minggu (11/10/2020).

Kemudian Benny mengatakan bangsa Indonesia sudah terbiasa dengan keberagaman. Menurutnya, timbul intoleransi, karena pemahaman yang kurang utuh.

"Indonesia terlahir dari perbedaan dan sudah terbiasa dan saling menghargai. Akan tetapi kenapa kasus intolerasi sekarang ini mudah terjadi? Ini karena pemahaman mengenai kultur budaya Indonesia yang menghormati perbedaan mulai luntur. Ini karena pemahanan budaya yang kurang utuh," jelas Benny

Bahkan Benny menyebut bangsa Indonesia seharusnya memiliki tingkatan yang sudah lebih dari toleransi. Karena itulah, demi menjalin kerukunan, komunikasi dan relasi yang baik antar tokoh agama dirasa perlu untuk terus dilakukan.

"Di indonesia bahkan lebih dari sebatas toleransi, hubungan antar agama di indonesia lebih kepada persaudaraan anak bangsa yang tidak membedakan dan harmonis. Dialog antar agama harus sering dilakukan di semua penjuru negeri untuk menjalin kerukunan," ungkapnya.

Selain pemahaman yang tak utuh, Benny menyebut ujaran kebencian di media sosial yang marak terjadi tentang agama juga menyebabkan konfik antar agama. Untuk itu, dia mengatakan harus ada kedewasaan dalam literasi informasi untuk menghadapi banyaknya ujaran kebencian dan berita hoax.

"Harus dewasa dalam menerima informasi, mengolah informasi, dan menanggapi informasi ini yang harus dipelajari. Belajar memahami perbedaan juga harus ditanamkan," tutur Benny.

(maa/maa)