IDI Sebut Corona Sulit Ditebak, Belum Bisa Diprediksi Apakah Sudah Puncak

Matius Alfons - detikNews
Senin, 05 Okt 2020 17:08 WIB
Ketua Asosiasi Rumah Sakit Aisyiyah Muhammadiyah (ARSAMU), Slamet Budiarto, Selasa (8/10/2019).
Waketum PB IDI Slamet Budiyarto (Foto: Usman Hadi/detikcom)
Jakarta -

Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI) mengungkap pola penyebaran virus Corona (COVID-19) selalu berubah-ubah dan sulit ditebak. PB IDI menyebut ini tergambar ketika pasien Corona di DKI Jakarta meledak maka di saat yang sama di Jawa Timur sedang menurun begitu juga sebaliknya.

"COVID-19 ini susah ditebak, saya masih ingat di bulan Maret dan April, saat itu DKI Jakarta tinggi, setelah itu pindah ke Surabaya, Jawa Timur, kita merendah turun, tapi ketika Jawa Timur mulai menurun, kita mulai naik lagi nih meledak lagi," Wakil Ketua Umum PB IDI, Slamet Slamet Budiarto, saat talk show yang disiarkan secara live di YouTube BNPB, Senin (5/10/2020).

Slamet pun mengungkap kondisi ini menunjukan virus Corona sulit dideteksi. Dia juga mengaku pihaknya belum tau apakah Corona saat ini sudah mulai menurun atau belum di Indonesia.

"Jadi kita belum bisa memprediksi apakah sudah sampai puncaknya atau saat landai atau saat turun, karena pola selalu berubah-ubah," ucap Slamet.

Dia juga mengungkap kondisi ini pun terjadi di Negara lain. Menurutnya sulit menemukan negara yang tidak ada kasus penularan sama sekali saat ini.

"Negara lain juga sama, belum ada atau sebagian besar negara hari ini kasus 0 itu masih sangat jarang sekali. Rata-rata ada infeksi baru terus," ujarnya.

Slamet pun mengungkap rata-rata tambahan harian saat ini di Indonesia memang mencapai angka 3 ribu hingga 4 ribuan. Meski begitu, jumlah tersebut tersegmentasi baik yang bergejala atau tidak. "Iya, kita kan nanti dibagi-bagi, tersegmentasi dimana, bergejala atau tidak kan gitu," imbuhnya.

(maa/imk)