Jokowi Minta Jangan Ada Kegaduhan saat Hadapi Corona, Ini Kata KAMI

Farih Maulana Sidik - detikNews
Senin, 05 Okt 2020 07:08 WIB
Ketua Komite Eksekutif KAMI Ahmad Yani
Ketua Komite Eksekutif KAMI, Ahmad Yani (Foto: Luqman Nurhadi Arunanta/detikcom)
Jakarta -

Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengingatkan agar semua pihak tidak membuat kegaduhan saat bangsa Indonesia tengah melawan virus Corona (COVID-19). Koalisi Aksi Menyelamatkan Indonesia (KAMI) menanggapi.

Ketua Komite Eksekutif KAMI, Ahmad Yani, menilai maksud kegaduhan saat pandemi Corona yang diungkap Jokowi tersebut tidak jelas apa dan untuk siapa. Menurutnya, jika maksud membuat kegaduhan itu ditujukan terhadap KAMI karena beberapa kritik dan aksi deklarasi, dia menilai itu tak tepat.

"Kita kan dalam konteks Corona ini bukan berarti semua hak-hak kedaulatan rakyat hilang. Kita masih boleh, tapi harus mengikuti protap-protap COVID. Pemerintah sendiri tetap menjalankan fungsi-fungsi politiknya kok, pemerintah kan sekarang tidak menunda pilkada, berarti kan kegiatan politik itu tetap berjalan. Pemerintah juga, partai-partai politik melakukan konsolidasi tetap juga, perkantoran, hotel tetap melaksanakan," kata Ahmad Yani, kepada wartawan, Minggu (4/10/2020).

Menurut Ahmad Yani, deklarasi yang dilakukan KAMI di sejumlah wilayah di Tanah Air tidak membuat kegaduhan meskipun ada insiden gesekan-gesekan dengan kelompok penentang deklarasi KAMI. Namun, menurutnya, yang sebenarnya membuat gaduh adalah mereka yang menghadang kegiatan-kegiatan KAMI.

"Seharusnya pihak-pihak yang mengadang, apa hak mereka menghadang KAMI? atas dasar konstitusi apa? kalau mereka tidak sepakat, buat aja pernyataan tidak setuju, tapi tidak boleh menghadang. Itu kan mengambil hak-hak bernegara, mereka mau demo juga boleh, tapi tidak boleh menghalangi dan melarang," ucapnya.

"Kita kan mendeklarasikan lahirnya KAMI di daerah-daerah, dan itu hak warga negara. Apa yang dimaksud gaduh? apa KAMI kritik Undang-undang Omnibus Law Cipta Naker dianggap gaduh? Apa yang dimaksud kan oleh Pak Moeldoko kemarin. Karena apa yang dimaksud oleh Menko Polhukam juga beda. Masa kita mau jadi negara otoritarian, diktator, nggak boleh semua, yang boleh hanya memuja-muja, apa itu maksudnya?," sambungnya.

Ahmad Yani menilai kegaduhan itu jika pemerintah tak mampu menyelesaikan wabah Corona. "Menurut KAMI membuat kegaduhan itu adalah kalau pemerintah sendiri tidak mampu menyelesaikan COVID ini, itu bisa membuat kegaduhan," katanya.

Diberitakan sebelumnya, Presiden Jokowi menegaskan pandemi virus Corona merupakan suatu realitas. Jokowi mengingatkan semua pihak agar tidak membuat kegaduhan.

"Wabah ini jangan diremehkan, ini realita, tapi jangan membuat kita pesimistis. Tujuh bulan ini Indonesia membuktikan mampu mengatasi masalah. Belum sempurna? Ya, tapi bisa kita perbaiki bersama-sama," kata Jokowi dalam video yang diunggah di kanal YouTube Sekretariat Presiden (Setpres), seperti dilihat detikcom, Minggu (4/10).

Jokowi mengakui pandemi virus Corona memang sulit dihadapi. Namun mantan Wali Kota Solo itu berpesan supaya semua elemen masyarakat tidak berpolemik satu sama lain.

"Menghadapi pandemi ini memang sulit, memerlukan kerja keras bersama, dan saya yakin kita akan dapat melakukannya," sebut Jokowi.

"Yang penting dalam situasi seperti ini, jangan ada yang berpolemik, dan jangan ada yang membuat kegaduhan-kegaduhan," imbuh Jokowi menegaskan.

Tonton juga 'DPR Minta Gatot-KAMI Lebih Baik Edukasi Soal COVID-19':

[Gambas:Video 20detik]

(fas/gbr)