Ke Kader KAMI, Ketua MPR Beberkan Tantangan Bangsa Indonesia

Yudistira Imandiar - detikNews
Minggu, 04 Okt 2020 19:29 WIB
Ketua MPR RI Bambang Soesatyo
Foto: dok. MPR RI
Jakarta -

Indonesia saat ini dihadapkan sejumlah tantangan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Tantangan tersebut, menurut Ketua MPR RI Bambang Soesatyo meliputi masalah toleransi, kesenjangan sosial-ekonomi, krisis identitas bangsa, hingga ancaman kedaulatan bangsa.

Dalam agenda Sosialisasi 4 Pilar MPR RI kepada kader Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI), Bamsoet mengatakan, organisasi juga berperan besar dalam menghadapi tantangan bangsa Indonesia. Oleh sebab itu, pergantian kepemimpinan dalam organisasi mesti melahirkan gagasan teraktual untuk mengentaskan tantangan-tantangan yang dihadapi bangsa tersebut.

"Selain tantangan internal dalam mengembangkan organisasi, ada juga berbagai tantangan eksternal yang hadir dari berbagai penjuru. Saat ini kita dihadapkan pada berbagai tantangan kebangsaan," kata Bamsoet, Minggu (4/10/20).

Bamsoet mengulas, melemahnya toleransi tercermin dari data Setara Institute yang mencatat terjadinya 846 peristiwa pelanggaran kebebasan beragama sepanjang 2014-2019. Masalah lainnya, yaitu lahirnya polarisasi masyarakat akibat penyalahgunaan politik identitas dalam kontestasi politik yang berbuntut panjang.

"Sementara demoralisasi generasi muda bangsa merupakan salah satu tantangan yang perlu mendapatkan prioritas penanganan. Sebagai gambaran, menurut laporan Catatan Tahunan Komnas Perempuan Tahun 2020, dari 3.602 pelaku kekerasan seksual pada ranah komunitas 2.257 (atau sebesar 62,7 persen) diantaranya dilakukan oleh kelompok usia 19 sampai dengan 40 tahun. Kelompok usia ini juga mendominasi angka pelaku kekerasan seksual pada ranah privat atau rumah tangga, yaitu sebanyak 6.791 orang dari total 11.105 pelaku, atau sekitar 61,2 persen," timpal Bamsoet.

Ketua DPR RI ke-20 itu menambahkan, penyalahgunaan narkoba di Indonesia oleh kalangan muda turut menjadi sorotan. Mengacu hasil survei Badan Narkotika Nasional (BNN) dan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) yang dirilis Juni 2019, terdapat 2,3 juta pelajar dan mahasiswa yang pernah mengkonsumsi narkotika, dan data tersebut kemungkinan terus bertambah.

"Memudarnya identitas dan karakteristik bangsa telah menjadi fenomena seiring laju perkembangan dan dinamika zaman. Identitas nasional sebagai manifestasi nilai-nilai luhur budaya yang tumbuh dan berkembang dalam kehidupan kebangsaan seakan mulai tergerus oleh budaya asing yang masuk melalui derasnya arus globalisasi. Gaya hidup hedonis, individualis, egois, dan pragmatis, mulai menggeser nilai budaya dan kearifan lokal kita," cetus Bamsoet.

Indonesia, lanjut Bamsoet, juga diterpa kesenjangan sosial ekonomi. Hal itu mendorong terkikisnya moral dan memudarkan kearifan lokal. Hal itu nampak dari sejumlah contoh kasus yang menyedot perhatian, seperti anak yang memenjarakan orang tua lantaran perebutan harta, hingga seorang nenek miskin yang diadili akibat mencuri pepaya karena kelaparan.

"Masih adanya kesenjangan sosial-ekonomi dapat kita rujuk dari angka ketimpangan distribusi pendapatan atau dikenal dengan rasio gini. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik pada Maret 2020, rasio gini berada di angka 0,381, atau meningkat 0,001 poin jika dibandingkan September 2019 sebesar 0,380. Berdasarkan RPJMN 2015-2019, target rasio gini sebesar 0,36, sehingga pencapaian saat ini masih tertinggal selisih 0,02 poin," rinci Bamsoet.

"Gambaran nyata mengenai kesenjangan sosial ekonomi juga terlihat dari laporan Global Wealth Report 2018 yang mencatat bahwa 10 persen orang terkaya di Indonesia menguasai 75,3 persen dari total kekayaan penduduk Indonesia," imbuhnya.

Berikutnya, Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia ini menyinggung ihwal ancaman kedaulatan negara di tengah hegemoni ekonomi-politik dunia. Kekayaan potensi alam dan posisi geografis yang strategis membuat Indonesia rentan mendapatkan pengaruh campur tangan asing.

Bamsoet memaparkan, berdasarkan data Food and Agricultural Organization Indonesia diketahui memiliki potensi lestari sumber daya ikan laut sekitar 12,54 juta ton per tahun yang tersebar di perairan wilayah Indonesia dan perairan Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE).

"Letak geografis Indonesia pun pada posisi strategis di antara dua benua (Asia dan Australia) dan dua samudera (Pasifik dan Hindia), dimana lebih dari 80 persen perdagangan dunia dilaksanakan melalui laut, dan 40 persen di antaranya melalui perairan Indonesia. Dengan kekayaan alam yang melimpah dan posisi geografis yang strategis tersebut, menempatkan kita sebagai 'center of gravity' dan sekaligus menjadikan kita dalam posisi rapuh terhadap pengaruh dan infiltrasi asing," urai Bamsoet.

Wakil Ketua Umum SOKSI ini menekankan, untuk mengatasi berbagai problematika tersebut, solusinya tidak hanya dengan memperkuat kekuatan militer dan persenjataan, atau membangun benteng-benteng pertahanan fisik yang memagari wilayah Nusantara. Indonesia dikatakan Bamsoet perlu membangun benteng ideologi.

Setiap warga negara yang tinggal di bumi nusantara harus merasa menjadi bagian dari NKRI. Untuk mendukung hal tersebut, pemerataan dan distribusi kesejahteraan harus menjadi prioritas pembangunan berkelanjutan pemerintah.

"Paradigma dalam memandang wilayah perbatasan harus diubah, bukan lagi sebagai wilayah 'terluar', tetapi wilayah 'terdepan'. Semangat nasionalisme tidak hanya dibangun melalui slogan, melainkan diimplementasikan dalam tindakan nyata," pesan Bamsoet.

(prf/ega)