PK Pengacara Penyuap 2 Hakim PN Jaksel Ditolak

Andi Saputra - detikNews
Jumat, 02 Okt 2020 15:54 WIB
Ilustrasi Palu Hakim
Foto: Ilustrasi palu hakim (Ari Saputra/detikcom).
Jakarta -

Pengacara Arif Fitrawan dihukum 3 tahun penjara karena terbukti menyuap dua hakim Pengadilan Negeri Jakarta Selatan (PN Jaksel) Iswahyu Widodo dan Irwan. Arif tidak terima dan mengajukan PK tapi kandas.

Kasus bermula sejak KPK melakukan serangkaian OTT di PN Jaksel pada 2018. Saat itu, ditangkap Panitera Pengganti PN Jaktim, Muhammad Ramadhan dengan pengacara Arif.

Sejatinya, Ramadhan saat itu sudah dimutasi ke PN Jaktim. Tapi karena pernah bertugas lama di PN Jaksel, ia diyakini para pihak bisa mengkondisikan proses perkara perdata dengan imbalan sejumlah uang.

Perkara yang dimaksudkan adalah sengketa perdata soal pertambangan di Luwu Timur, Sulawesi Selatan. Bisnis pertambangan itu pecah kongsi hingga masuk ke pengadilan.

Awalnya sengketa digelar digelar di PN Makassar. Tapi pada majelis PN Makassar menyatakan tidak berwenang mengadili karena pihak bersengketa berdomisili di Jaksel.

Salah satu pihak, Martin Silitonga, mendorong perkara diadili kembali di PN Jaksel. Majelis kemudian dibentuk yang terdiri atas Iswahyu, Irwan, dan Achmad Guntur.

Martin mengusulkan agar pengacaranya, Arif Fitriawan 'mengurus' kepada majelis hakim. Pengacaranya kemudian menghubungi Ramadhan.

Sepekan sebelum putusan sela, Ramadhan bertemu Iswahyu dan Irwan di RM Kuri-kuri Ampera Raya, Jaksel.

"Duitnya berapa?" tanya Irwan.

"Rp 150 juta," kata Ramadhan.

Irwan menyatakan menyanggupi membantu dan mengakomodasi. Ramadhan menyampaikan pesan itu ke Arif. Oleh Arif, pesan itu diteruskan ke Martin. Sejurus kemudian, Martin mentransfer uang ke Arif sebesar Rp 210 juta.

Pada 31 Juli 2018, Arif menyerahkan uang Rp 150 juta ke Ramadhan di parkiran masjid STPDN Cilandak, Jalan Ampera Raya. Uang kemudian berestafet dari Ramadhan ke Irwan di parkiran Kemang Medical Centre, Jalan Ampera Raya. Uang itu kemudian dibagi kepada Irwan dan Iswahyu. Irwan mendapatkan Rp 110 juta, sedangkan Iswahyu mendapatkan Rp 40 juta.

Di sisi lain, Martin ditahan jaksa Kejari Jaksel dalam kasus penggelapan pada 26 November 2018.

Adapun perkara perdata terus bergulir. Menjelang vonis akhir, mengucur uang Rp 500 juta. Uang itu kemudian ditukar ke dalam mata uang dolar Amerika Serikat. Uang dari Arif itu kemudian diserahkan ke Ramadhan di tempat tinggalnya di Lavender Residence.

Saat serah-terima uang suap babak kedua itu, KPK membekuk Arif dan Ramadhan. Komplotan koruptor itu kemudian diadili.

Pada 11 Juli 2019, PN Jakpus menjatuhkan hukuman 3 tahun penjara kepada Arif karena dinilai bersalah melanggar Pasal 6 ayat (1) huruf a UU Tipikor. Arif juga didenda Rp 150 juta subsider 2 bulan kurungan.

Arif menerima putusan itu. Belakangan, ia mengajukan upaya hukum luar biasa ke MA. Apa kata MA?

"Tolak," demikian bunyi amar singkat PK yang dilansir website Mahkamah Agung (MA), Jumat (2/10/2020).

Duduk sebagai ketua majelis Suhadi dengan anggota majelis M Askin dan Eddy Army. Putusan itu diketok pada 28 September 2020. Berikut daftar hukuman dalam komplotan tersebut:

1. Hakim Iswahyu Widodo dihukum 4,5 tahun penjara. Sedang mengajukan proses PK.
2. Hakim Irwan, dihukum 4,5 tahun penjara.
3. Panitera pengganti M Ramadhan, dihukum 4,5 tahun penjara. Namun hukumannya disunat menjadi 2 tahun penjara di tingkat PK.

(asp/gbr)