Hina Istri Nabi, YouTuber Aleh Aleh Khas Medan Dituntut 7 Bulan Penjara

Datuk Haris Molana - detikNews
Kamis, 01 Okt 2020 17:39 WIB
Sidang kasus YouTuber hina istri Nabi Muhammad (Datuk Haris-detikcom)
Sidang kasus YouTuber hina istri Nabi Muhammad (Datuk Haris/detikcom)
Medan -

YouTuber Rahmat Hidayat, atau yang dikenal lewat channel YouTube Aleh Aleh Khas Medan dituntut 7 bulan penjara. Jaksa penuntut umum (JPU) meyakini Rahmat bersalah melakukan ujaran kebencian.

"Menjatuhkan pidana terhadap terdakwa Rahmat Hidayat alias Aleh dengan pidana penjara selama 7 bulan dikurangi dengan masa penahanan sementara yang telah dijalani," kata jaksa saat membacakan tuntutan secara virtual di PN Medan, Kamis (1/10/2020).

Rahmat diyakini bersalah karena dengan sengaja dan tanpa hak menyebarkan informasi yang ditujukan untuk menimbulkan rasa kebencian atau permusuhan individu atau masyarakat tertentu berdasarkan SARA. Dia dinilai melanggar Pasal 45 ayat 2 jo Pasal 28 ayat 2 UU No 19 Tahun 2016 tentang Perubahan atas UU No 11 Tahun 2008 tentang ITE.

"Sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam Pasal 45 ayat 2 jo Pasal 28 ayat 2 UU No 19 Tahun 2016 tentang perubahan atas UU No 11 Tahun 2008 tentang ITE dalam dakwaan ke satu," sebut Jaksa.

Jaksa kemudian menjelaskan hal yang memberatkan Rahmat, yakni perbuatannya membuat keresahan di masyarakat dan terganggunya keharmonisan umat beragama di Indonesia, khususnya umat Islam. Sementara hal yang meringankan adalah terdakwa mengakui dan menyesali perbuatannya.

"Terdakwa telah melakukan perdamaian dengan umat Islam dan dalam hal ini diwakili oleh seluruh pihak pelapor dan tokoh-tokoh agama di Kecamatan Medan Labuhan, Medan Deli, Medan Belawan, sebagaimana terlampir dalam berkas perkara ini dan salah satu klausul perdamaian disebutkan adanya permohonan dari pelapor kiranya hukuman dalam penuntutan yang diberikan pada terdakwa bisa bersifat sebagai pembelajaran," sebut Jaksa.

Sebelumnya, Rahmat didakwa dalam kasus ujaran kebencian karena diduga menghina istri Nabi Muhammad, Aisyah. Dia didakwa melakukan ujaran kebencian terkait suku, agama, ras dan antargolongan (SARA).

"Dengan sengaja dan tanpa hak menyebarkan informasi yang ditujukan untuk menimbulkan rasa kebencian atau permusuhan individu dan/atau kelompok masyarakat tertentu berdasarkan atas suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA)," demikian isi dakwaan jaksa seperti dilihat dari situs Sistem Informasi Penelusuran Perkara (SIPP) PN Medan, Selasa (18/8).

Sidang perdana kasus dugaan ujaran kebencian ini awalnya dijadwalkan pada Kamis (6/8). Namun sidang ditunda dan digelar pada Kamis (13/8) dengan agenda pembacaan dakwaan.

Kasus ini berawal pada 7 April 2020. Saat itu Rahmat bersama rekan-rekannya disebut berada di rumah yang ditempati seseorang bernama Fahrezi Gilang Aprilian di daerah Medan Deli.

"Deni memberikan ide kepada terdakwa untuk membuat adegan memegang rambutnya ke atas lalu seperti pikiran kosong dan kerasukan lalu naik atas tempat tidur dan menghadap ke belakang agar kemudian ditolong, namun terdakwa dengan inisiatifnya sendiri ternyata menambah adegan dengan membuka celana panjang yang sedang dikenakannya sehingga pada bagian bawah terdakwa hanya menggunakan celana pendek boxer-nya lalu melipat lagi bagian ujung celana ke atas hingga ke pangkal paha," ujar jaksa.

"Lalu saat ditempat tidur dan menghadap ke belakang terdakwa kemudian menungging sehingga memperlihatkan bokongnya yang hanya menggunakan celana boxer pendek yang ujungnya telah terlipat ke atas sampai ke pangkal paha," sambung jaksa.

(haf/haf)