Round-Up

Ketika Usapan BIN Diragukan

Tim detikcom - detikNews
Selasa, 29 Sep 2020 07:36 WIB
Pegawai KPU dan para jurnalis mengikuti tes Swab COVID-19 di halaman kantor pusat KPU, Jakarta, Selasa (4/8/2020).Tes tersebut diselenggarakan oleh KPU bekerjasama dengan Badan Intelijen Negara (BIN).
BIN saat menggelar tes swab di KPU. (Ari Saputra/detikcom)

BIN Juga Ungkap Permodelan Puncak Corona

Tak hanya ikut membantu pelacakan, BIN juga mengungkap permodelan yang dibuat pemerintah terkait penyebaran virus Corona. Saat itu, BIN mengungkap puncak kasus Corona terjadi 60-80 hari sejak pertama kali diumumkan atau pada April-Mei saat memasuki Ramadhan.

"Jadi, kalau kita hitung-hitung, masa puncak itu mungkin jatuhnya di bulan Mei, berdasarkan permodelan ini. Bulan puasa, bulan puasa," kata Deputi V BIN Afini Boer dalam diskusi 'Bersatu Melawan Corona' di Little League, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Jumat (13/3).

Afini juga mencontohkan permodelan yang ada di China dan Inggris. Untuk kasus di Indonesia, permodelan dibuat sesuai dengan data-data terkait Corona yang sudah ada.

"Di Indonesia sebetulnya bekerja sama dengan beberapa pihak, itu sama juga membuat permodelan dari data yang sudah ada. Dari permodelan yang ada, kita memperkirakan bahwa masa puncak di Indonesia itu akan berlaku 60-80 hari sejak infeksi pertama itu diumumkan tanggal 2 Maret," kata Afini.

BIN juga ikut memprediksi penularan Corona jika ada konsentrasi massa saat salat Idul Fitri 1441 H. Hal itu disampaikan Menag Fachrul Razi.

"BIN memberikan prediksi, kalau kita masih melakukan salat Id di luar, maka akan terjadi pelonjakan angka penularan COVID-19 yang signifikan," kata Fachrul dalam konferensi video seusai rapat terbatas, Selasa (19/5).

Halaman

(dkp/dwia)