Round-Up

Ketika Usapan BIN Diragukan

Tim detikcom - detikNews
Selasa, 29 Sep 2020 07:36 WIB
Pegawai KPU dan para jurnalis mengikuti tes Swab COVID-19 di halaman kantor pusat KPU, Jakarta, Selasa (4/8/2020).Tes tersebut diselenggarakan oleh KPU bekerjasama dengan Badan Intelijen Negara (BIN).
BIN saat menggelar tes swab di KPU. (Ari Saputra/detikcom)

Pertama, RNA/protein yang tersisa (jasad renik virus) sudah sangat sedikit, bahkan mendekati hilang, sehingga tak lagi terdeteksi. Apalagi subjek tanpa gejala klinis dan dites pada hari yang berbeda. OTG/asimptomatik yang mendekati sembuh berpotensi memiliki fenomena tersebut.

Kedua, terjadi bias pre-analitik, yaitu pengambilan sampel dilakukan oleh dua orang berbeda dengan kualitas pelatihan berbeda dan SOP berbeda pada laboratorium yang berbeda, sehingga sampel swab cell yang berisi virus COVID tidak terambil dan terkontaminasi.

Ketiga, sensitivitas reagen dapat berbeda terutama bagi pasien yang nilai CQ/CTnya sudah mendekati 40. Dalam kaitan ini, BIN mengaku menggunakan reagen Perkin Elmer dari Amerika, A-Star Fortitude dari Singapura, dan Wuhan Easy Diag dari China. Reagen ini lebih tinggi dalam hal standar dan sensitivitas terhadap strain COVID-19 dibandingkan merek lain, seperti Genolution dari Korea atau Liferiver dari China yang digunakan beberapa rumah sakit.

Ketiga faktor itulah yang menyebabkan perbedaan hasil uji swab. Namun, Wawan menjamin, kondisi peralatan, metode, dan test kit yang digunakan BIN adalah gold standard dalam pengujian sampel COVID-19.

"BIN menjamin kondisi peralatan, metode, dan test kit yang digunakan adalah gold standard dalam pengujian sampel COVID-19. Kasus false positive dan false negative sendiri telah banyak dilaporkan di berbagai negara, seperti Amerika Serikat, China, dan Swedia," ujar Wawan.

LAN Apresiasi BIN soal Tes Swab

LAN menilai positif kiprah BIN yang berperan dalam pencegahan dan penanggulangan Corona di Indonesia. LAN mengapresiasi langkah BIN menyelenggarakan swab test sebagai upaya testing di lingkungan LAN.

Tes swab yang digelar BIN kepada pegawai LAN digelar pada 21 Juli 2020 lalu. LAN mengatakan tes usap itu merupakan inisiatif LAN.

"Dalam wawancara lewat telepon pada tanggal 24 September 2020, Kepala LAN sama sekali tidak pernah menyampaikan penilaian atau opini terkait perbedaan hasil swab test. Karena hal tersebut jelas bukan merupakan ranah kewenangan dan kompetensi LAN," ujar Kepala Biro Hukum dan Humas LAN, Tri Atmojo Sejati, Senin (28/9/2020). Yang disampaikan Kepala LAN Adi Suryanto menanggapi pemberitaan majalah Tempo mengenai validitas tes swab yang dilakukan BIN.

Selanjutnya
Halaman
1 2 3 4