Legislator PDIP: Swab Test BIN Layak Digunakan Sesuai Standar

Nur Azizah Rizki Astuti - detikNews
Senin, 28 Sep 2020 20:16 WIB
Corona virus: vial with pipette in laboratory
Foto: Getty Images/iStockphoto/Bill Oxford
Jakarta -

Ketua Kelompok Fraksi (Kapoksi) PDIP di Komisi I DPR, Dede Indra Permana Soediro, mengapresiasi inisiatif Badan Intelijen Negara (BIN) terkait kinerjanya membantu penanganan pandemi COVID-19 dengan ikut menggelar swab test. Dede menyebut alat swab test yang digunakan BIN sudah memenuhi standar.

Untuk diketahui, akurasi swab test yang dilakukan BIN dipertanyakan. BIN sendiri menggunakan dua alat RT PCR jenis Qiagen dari Jerman dan Thermo Scientific dari Amerika saat melakukan tes swab.

"Terkait masalah akurasi hasil tes, keduanya (Qiagen dan Thermo Scientific PCR) memiliki sertifikat Laboratorium Biosafety Level 2 (BSL-2) yang telah didesain mengikuti standar protokol laboratorium. Selain itu, proses sertifikasi telah dilakukan oleh Lembaga Sertifikasi Internasional, World Bio Haztec (Singapura), dan melakukan kerja sama dengan Lembaga Biologi Molekuler (LBM) Eijkman untuk standar hasil tes," kata Dede dalam keterangan tertulis, Senin (28/9/2020).

"Dengan begitu, layak digunakan untuk analisis Reverse Transcriptase-Polymerase Chain Reaction (RT-PCR)," lanjutnya.

Dede mengatakan BIN menerapkan ambang batas standar hasil tes PCR yang lebih tinggi dibandingkan institusi atau lembaga lain. Jika ada hasil positif atau negatif palsu, menurut Dede, Dewan Analis Strategis Medical Intelligence BIN, termasuk jaringan intelijen di WHO, telah menjelaskan fenomena hasil tes swab positif menjadi negatif bukan hal yang baru.

"Apalagi subjek tanpa gejala klinis dan dites pada hari yang berbeda. OTG/asimptomatik yang mendekati sembuh berpotensi memiliki fenomena tersebut. Berikutnya, terjadi bias pre-analitik, yaitu pengambilan sampel dilakukan oleh dua orang berbeda, dengan kualitas pelatihan berbeda dan standar operasional prosedur (SOP) berbeda pada laboratorium yang berbeda," ucapnya.

Dede mengatakan BIN menjamin kondisi peralatan, metode, dan test kit yang digunakan adalah Gold Standard dalam pengujian sampel COVID-19. Menurut Dede, BIN juga berkoordinasi dengan pemerintah daerah terkait pelaporan untuk menggelar kegiatan tes massal di berbagai titik.

BIN disebutnya juga berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan serta Satgas Penanganan COVID-19 di daerah, untuk membantu menentukan titik-titik lokasi yang menjadi klaster penyebaran COVID-19.

Selain itu, Dede menyebut Satgas Intelijen Medis BIN yang dibentuk pada April 2020 selalu melaporkan hasil tes swab yang selama ini dilakukan kepada Kementerian Kesehatan dan Satgas COVID-19. Dede menegaskan, BIN diberi kewenangan oleh UU 17/2011 untuk membentuk Satgas dalam pelaksanaan aktivitas Intelijen Medis.

"Dengan dasar tersebut, BIN turut berpartisipasi secara aktif membantu Satgas Penanganan COVID-19 dengan melakukan Operasi Medical Intelligence, di antaranya berupa gelaran tes swab di berbagai wilayah, dekontaminasi, dan kerja sama dalam pengembangan obat dan vaksin," tuturnya.

Dede menyatakan kehadiran Satgas BIN juga diapresiasi Kementerian/Lembaga serta pemda karena membantu pelaksanaan tracing di wilayah institusinya. Menurut Dede, BIN juga untuk memperbanyak kapasitas testing di Indonesia yang saat ini masih di bawah rata-rata tes harian standar WHO, yaitu 1.000 tes per 1 juta penduduk.

"Karenanya, BIN bekerja sama dengan berbagai lembaga penelitian dan universitas yang memiliki fasilitas laboratorium BSL-2 dan 3 di berbagai daerah. Utamanya yang masuk dalam zona merah COVID-19, untuk meningkatkan kapasitas uji spesimen dengan memberikan berbagai bantuan alat laboratorium," ujar Dede.

"Upaya 3T dimaksudkan untuk mencegah OTG/asimptomatik agar tidak menjadi spreader menjadi perhatian bersama. Selain itu, penting juga mengobati pasien COVID-19 kondisi ringan dan sedang yang dideteksi sejak dini dari tes swab berpeluang sembuh lebih besar serta lebih murah. Jangan sampai stigmatisasi masyarakat yang kuat melekat menjadi bagian dari polemik hasil tes positif-negatif," tegasnya.

Sebelumnya, BIN buka suara soal akurasi hasil tes swab virus Corona (COVID-19) yang dilaksanakannya. BIN menyebut alat yang digunakan untuk melakukan tes swab sudah sesuai standar protokol laboratorium.

Deputi VII BIN Wawan Hari Purwanto mengatakan BIN menggunakan 2 alat RT PCR jenis Qiagen dari Jerman dan Thermo Scientific dari Amerika saat melakukan tes swab. Wawan menyebut alat itu sudah melewati proses sertifikasi oleh lembaga internasional dan dinyatakan layak sesuai standar.

"Dalam melakukan proses uji spesimen, laboratorium BIN menggunakan 2 jenis mesin RT PCR. Yaitu, jenis Qiagen dari Jerman dan jenis Thermo Scientific dari Amerika Serikat dan memiliki sertifikat Lab BSL-2 yang telah didesain mengikuti standar protokol laboratorium, telah dilakukan proses sertifikasi oleh lembaga sertifikasi internasional, World Bio Haztec (Singapura). Serta melalukan kerja sama dengan LBM Eijkman untuk standar hasil sehingga layak digunakan untuk analisis reverse transcriptase polymerase chain reaction (RT-PCR) yang sesuai standar," kata Wawan dalam keterangannya, Senin (28/9).

(azr/dwia)