Presiden Amerika Serikat Donald Trump melontarkan pernyataan kontroversial dengan menyebut ingin "mengambil alih" Kuba di tengah krisis listrik parah yang melanda negara tersebut. Namun, pemerintah Kuba langsung merespons tegas dan menolak wacana tersebut.
Diketahui, pemadaman listrik total yang terjadi di Kuba diakibatkan oleh "pemadaman total jaringan listrik nasional," kata Union Nacional Electrica de Cuba (UNE) dalam sebuah pernyataan, menambahkan bahwa pekerjaan telah dimulai untuk memulihkan aliran listrik.
Kondisi ini diperparah oleh keterbatasan pasokan energi. Infrastruktur pembangkit listrik yang sudah tua membuat pemadaman hingga belasan bahkan puluhan jam per hari menjadi hal yang umum di sejumlah wilayah.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun sejak AS menggulingkan sekutu utama Kuba, Nicolas Maduro dari Venezuela, pada awal Januari lalu, ekonomi pulau itu semakin terpukul karena Trump mempertahankan blokade minyak de facto.
Tidak ada minyak yang diimpor ke pulau itu sejak 9 Januari, yang berdampak pada sektor energi sekaligus memaksa maskapai penerbangan untuk mengurangi penerbangan ke pulau itu, sebuah pukulan bagi sektor pariwisata yang sangat penting.
Dalam upaya untuk mengurangi tekanan ekonomi -- dan memenuhi tuntutan AS -- seorang pejabat ekonomi senior di Kuba mengumumkan pada hari Senin bahwa para pengungsi Kuba sekarang dapat berinvestasi dan memiliki bisnis di sana.
"Kuba terbuka untuk menjalin hubungan komersial yang lancar dengan perusahaan-perusahaan AS" dan "juga dengan warga Kuba yang tinggal di Amerika Serikat dan keturunan mereka," kata Menteri Perdagangan Luar Negeri dan juga Wakil Perdana Menteri, Oscar Perez-Oliva, kepada NBC News.
Trump Ancam Ambil Alih Kuba
Di tengah krisis listrik itu, Trump berjanji "mengambil alih" Kuba. Trump menyebut telah lama mendengar tentang hubungan antara Amerika Serikat dan Kuba, seraya mempertanyakan kapan Washington akan mengambil langkah lebih jauh terhadap negara tersebut.
"Anda tahu, sepanjang hidup saya, saya telah mendengar tentang Amerika Serikat dan Kuba. Kapan Amerika Serikat akan melakukannya?. Saya percaya saya akan...mendapatkan kehormatan untuk mengambil alih Kuba," kata Trump kepada wartawan di Gedung Putih dilansir AFP, Selasa (17/3/2026).
Ia mengisyaratkan berbagai kemungkinan, mulai dari membebaskan hingga mengontrol negara itu, dengan menyebut Kuba sebagai negara yang saat ini berada dalam kondisi sangat lemah.
"Entah saya membebaskannya, mengambilnya-atau berpikir saya bisa melakukan apa pun yang saya inginkan dengannya, Anda ingin tahu yang sebenarnya. Mereka adalah negara yang sangat lemah saat ini," lanjutnya.
Presiden Kuba Melawan
Presiden Kuba Miguel Diaz-Canel bersikap menantang menghadapi ancaman Trump.
"Menghadapi skenario terburuk, Kuba memiliki satu jaminan: setiap agresor eksternal akan menghadapi perlawanan yang tak tergoyahkan," tulisnya dalam sebuah pernyataan di X.
Tanieris Dieguez, wakil kepala misi Kuba di Washington, mengatakan kedua negara tetangga itu "memiliki banyak hal untuk dibahas" tetapi tidak satu pun dari mereka yang boleh meminta negara lain untuk mengubah pemerintahannya.
"Tidak ada yang berkaitan dengan sistem politik kita, tidak ada yang berkaitan dengan model politik kita--model konstitusional kita--yang menjadi bagian dari negosiasi, dan tidak akan pernah menjadi bagian dari itu," katanya.
"Satu-satunya hal yang diminta Kuba dalam setiap percakapan adalah penghormatan terhadap kedaulatan kami dan hak kami untuk menentukan nasib sendiri," imbuhnya.
The New York Times, mengutip pejabat AS yang tidak disebutkan namanya, mengatakan pemerintahan Trump telah menyerukan agar Kuba memecat Diaz-Canel, yang dianggap resisten terhadap perubahan
Simak juga Video 'Trump Akan Buat Kesepakatan dengan Kuba: Mereka Negara Gagal':











































