BIN Buka Suara soal Validitas Tes Swab

Tim detikcom - detikNews
Senin, 28 Sep 2020 07:16 WIB
Pegawai KPU dan para jurnalis mengikuti tes Swab COVID-19 di halaman kantor pusat KPU, Jakarta, Selasa (4/8/2020).Tes tersebut diselenggarakan oleh KPU bekerjasama dengan Badan Intelijen Negara (BIN).
Tes Swab BIN di KPU (Ari Saputra/detikcom)

Pertama, RNA/protein yang tersisa (jasad renik virus) sudah sangat sedikit, bahkan mendekati hilang, sehingga tak lagi terdeteksi. Apalagi subjek tanpa gejala klinis dan dites pada hari yang berbeda. OTG/asimptomatik yang mendekati sembuh berpotensi memiliki fenomena tersebut.

Kedua, terjadi bias pre-analitik, yaitu pengambilan sampel dilakukan oleh dua orang berbeda dengan kualitas pelatihan berbeda dan SOP berbeda pada laboratorium yang berbeda, sehingga sampel swab cell yang berisi virus COVID tidak terambil dan terkontaminasi.

Ketiga, sensitivitas reagen dapat berbeda terutama bagi pasien yang nilai CQ/CTnya sudah mendekati 40. Dalam kaitan ini, BIN mengaku menggunakan reagen Perkin Elmer dari Amerika, A-Star Fortitude dari Singapura, dan Wuhan Easy Diag dari China. Reagen ini lebih tinggi dalam hal standar dan sensitivitas terhadap strain COVID-19 dibandingkan merek lain, seperti Genolution dari Korea atau Liferiver dari China yang digunakan beberapa rumah sakit.

Menurut Wawan, ketiga faktor itulah yang menyebabkan perbedaan hasil uji swab. Namun, Wawan menjamin, kondisi peralatan, metode, dan test kit yang digunakan BIN adalah gold standard dalam pengujian sampel COVID-19.

"BIN menjamin kondisi peralatan, metode, dan test kit yang digunakan adalah gold standard dalam pengujian sampel COVID-19. Kasus false positive dan false negative sendiri telah banyak dilaporkan di berbagai negara, seperti Amerika Serikat, China, dan Swedia," ujarnya.

Selain itu, Wawan menjelaskan keterlibatan BIN dalam penanganan COVID-19. Ia menjelaskan BIN diberi kewenangan oleh UU Nomor 17 Tahun 2011 tentang intelijen negara untuk membentuk satgas dalam pelaksanaan aktivitas dalam pelaksanaan aktivitas intelijen.

"Ancaman kesehatan juga merupakan bagian dari ancaman terhadap keamanan manusia yang merupakan ranah BIN. Sehingga dengan dasar itu BIN turut berpartisipasi secara aktif membantu Satgas Penanganan COVID-19 dengan melakukan operasi medical intelligence (intelijen medis), di antaranya berupa gelaran tes swab di berbagai wilayah, dekontaminasi, dan kerja sama dalam pengembangan obat dan vaksin. Hal semisal ini juga dilakukan di negara-negara lain, seperti Amerika Serikat memiliki National Center for Medical Intelligence (NCMI) yang melalukan surveillance penyakit menular dunia atau NATO di Eropa yang melibatkan aktivitas intelijen dalam pengkajian infrastruktur kesehatan," tuturnya.

Halaman

(ibh/dnu)