Round-up

Yang Perlu Diketahui tentang Potensi Tsunami 20 Meter

Tim detikcom - detikNews
Minggu, 27 Sep 2020 07:49 WIB
Dua alat EWS di Cianjur rusak, BPBD sulit deteksi potensi tsunami
Foto ilustrasi suasana tepi laut selatan Jawa. (Ismet Selamet/detikcom)
Jakarta -

Sebagai masyarakat yang hidup di atas jalur gempa, warga Indonesia memang perlu waspada soal potensi bencana. Riset terbaru soal potensi tsunami setinggi 20 meter di selatan Jawa seolah tidak membiarkan kita terlena. Tapi jangan cemas.

Abaikan saja bila ada hoax meresahkan dan tidak bisa dipertanggungjawabkan. Berikut ini hal-hal yang perlu diketahui seputar potensi tsunami setinggi 20 meter itu, dari sumber-sumber yang kompeten.

1. Berasal dari laporan ilmiah

Potensi tsunami setinggi 20 meter diungkapkan ke publik oleh ilmuwan dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Sri Widiyantoro. Laporan ilmiah itu dimuat di situs Nature, judulnya 'Implications for Megathrust Earthquakes and Tsunamis from Seismic Gaps South of Java Indonesia'. Ilmuwan yang terlibat adalah Sri Widiyantoro dari ITB, E Gunawan, Abdul Muhari dari BNPB, N Rawlinson, J Mori, NR Hanifa, S Susilo, P Supendi, HA Shiddiqi, AD Nugraha, dan HE Putra.

Secara umum, bila dua area di zona megathrust di selatan Jawa runtuh secara bersamaan, bakal ada gempa bermagnitudo (M) 9,1. Gempa raksasa itu bakal memunculkan gelombang tsunami setinggi 20,2 meter.

"Skenario terburuk, yaitu jika segmen-segmen megathrust di sepanjang Jawa pecah secara bersamaan," kata Sri saat dihubungi detikcom, Kamis (24/9).

2. Itu kemungkinan terburuk, bukan prediksi jangka pendek

Penelitian itu mengambil data dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Sebagaimana diungkapkan Sri, itu adalah skenario alias pemodelan ilmiah. BMKG menjelaskan, hal ini tidaklah sama sifatnya dengan prediksi, misalnya nanti siang akan hujan atau malam ini bakal cerah berawan.

"Besarnya magnitudo gempa yang disampaikan tersebut adalah potensi skenario terburuk (worst case), bukan prediksi yang akan terjadi dalam waktu dekat, sehingga kapan terjadinya tidak ada satu pun orang yang tahu," kata Kepala Bidang Mitigasi Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Daryono dalam keterangan tertulis kepada detikcom, Sabtu (26/9).

Yang terpenting bagi masyarakat adalah mitigasi, yakni tindakan mengurangi dampak bencana. Untuk mengurangi dampak gempa dan tsunami, masyarakat perlu senantiasa menerima edukasi, termasuk lewat informasi yang dapat dipertanggungjawabkan. Gempa adalah fenomena alam yang lumrah di selatan Jawa. Tsunami sudah beberapa kali terjadi dalam rentang ratusan tahun belakangan. Soal kapan terjadi gempa dan tsunami sebagaimana skenario ilmiah itu, tidak ada yang tahu momentumnya.

"Untuk itu, dalam ketidakpastian kapan terjadinya, kita semua harus melakukan upaya mitigasi," kata Daryono.

Kepala Bidang Mitigasi Gempabumi dan Tsunami BMKG, Daryono (Eva-detikcom)Kepala Bidang Mitigasi Gempabumi dan Tsunami BMKG, Daryono (Eva/detikcom)

Tonton juga 'Penjelasan Peneliti ITB soal Potensi Tsunami 20 M di Selatan Pulau Jawa':

[Gambas:Video 20detik]

Selanjutnya
Halaman
1 2 3