Waket MPR Apresiasi Pencabutan Klaster Pendidikan dari RUU Ciptaker

Nurcholis Maarif - detikNews
Jumat, 25 Sep 2020 22:47 WIB
HNW
Foto: MPR
Jakarta -

Wakil Ketua MPR Hidayat Nur Wahid (HNW) mengapresiasi langkah pemerintah dan Badan Legislasi (Baleg) DPR yang mencabut klaster pendidikan dari Omnibus Law RUU Cipta Kerja. Ini menjadi sesuatu yang baik karena pemerintah mau mendengar aspirasi publik.

"Semua itu membuktikan bahwa penyusunan dan materi Omnibus Law RUU Ciptaker banyak mengandung masalah," ujar dia dalam keterangannya, Jumat (25/9/2020).

"Karena itu sebaiknya pembahasan RUU itu dihentikan saja, agar tidak menghadirkan masalah-masalah lain yang lebih serius dalam kehidupan berbangsa dan bernegara di kemudian hari," imbuhnya.

HNW menunjukkan sejumlah ketentuan dalam Klaster Pendidikan RUU Ciptaker yang mengubah beberapa pasal dalam UU Sistem Pendidikan Nasional (UU Sisdiknas) yang bermasalah.

"Nuansa pengaturannya sangat kentara sekali bernuansa liberalisasi, privatisasi, dan komersialisasi pendidikan, yang tidak sesuai dengan cita-cita Indonesia merdeka, dan amanat UUD NRI 1945," ujarnya.

Ia menjelaskan konsep pengelolaan pendidikan dengan liberalisasi, komersialisasi, dan privatisasi dalam RUU Ciptaker itu menuai banyak kritik, baik dari anggota Baleg DPR RI Fraksi PKS, maupun ormas dan organisasi pendidikan, seperti Muhammadiyah, Nahdlatul Ulama (NU), bahkan Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI).

"Alhamdulillah dan terima kasih, kritik dan masukan masyarakat untuk mencabut klaster pendidikan dari RUU Ciptaker ini akhirnya didengarkan dan dikabulkan," ujarnya.

HNW mengungkapkan penarikan klaster pendidikan dalam RUU Ciptaker itu memang seharus dilakukan, apalagi RUU itu telah menghadirkan kegaduhan, jika dikaji dari sisi pendidikan keagamaan (Islam). Sebab, kata HNW, di sana ada nuansa sekulerisasi, liberalisasi, dan materialisme yang tidak sesuai dengan tujuan pendidikan nasional sebagaimana diatur dalam Pasal 31 ayat (3) dan ayat (5) UUD NRI 1945. Misalnya, klaster pendidikan dalam RUU Ciptaker itu menghapus keberadaan dan peran lembaga 'Raudhatul Athfal', lembaga pendidikan keagamaan untuk anak-anak. Pencabutan itu diatur dalam Pasal 28 ayat (3) UU Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas).

Selain itu, beberapa ketentuannya juga berbau pasal karet yang bisa membahayakan lembaga pendidikan keagamaan dan pengelolanya, seperti madrasah dan pesantren. HNW mengatakan apabila merujuk kepada UU, maka baik madrasah maupun pesantren itu termasuk dalam kategori lembaga pendidikan formal maupun nonformal.

Masalahnya, klaster pendidikan dalam RUU Ciptaker, yakni Pasal 71 dan Pasal 62 ayat (1), bermuatan pengaturan pasal karet yang bisa mengancam sanksi hukum pidana dan denda bagi penyelenggara lembaga pendidikan formal dan nonformal, termasuk pesantren dan madrasah.

"Padahal pesantren dan madrasah sebagai lembaga pendidikan formal atau nonformal, diatur dalam UU yang bersifat lex specialis, yaitu UU Pesantren, yang sama sekali tidak mengatur hukuman pidana atau denda," tutur dia.

"Jadi wajar, jika banyak pesantren dan madrasah yang resah akibat adanya pasal karet itu. Karena pasal tersebut, potensial jadi ancaman sanksi pidana maupun denda itu terhadap mereka" ujarnya.

Menurut HNW, pencabutan terhadap klaster pendidikan dari RUU Ciptaker ini berarti aturan soal pendidikan dan pendidikan agama kembali kepada aturan dan UU semula, yang terbukti lebih baik dan lebih sesuai semangat reformasi dan konstitusi.

"Dengan demikian, bisa tentramlah lembaga pendidikan agama dan penyelenggaranya (yakni para kiyai dan ustaz) dari kemungkinan tersasar ancaman sanksi, akibat adanya pasal karet itu," ujarnya.

Meski begitu, HNW menilai pencabutan klaster pendidikan dan penundaan klaster ketenagakerjaan dari RUU Ciptaker belum menjawab masalah utama dan belum cukup mengakomodasi desakan kelompok atau organisasi kemasyarakatan selaku stakeholders dari bangsa ini. Pasalnya, apabila diperhatikan lebih seksama, penolakan dari banyak kelompok atau ormas, seperti Muhammadiyah dan NU, bukan hanya terkait dengan klaster pendidikan, melainkan seluruh RUU Ciptaker yang dinilai bermasalah. Hal tersebut sudah berulangkali disampaikan.

"Jadi, apabila DPR RI dan Pemerintah peka terhadap masukan dari masyarakat, seharusnya seluruh pembahasan RUU Ciptaker dihentikan, bukan hanya menunda klaster ketenagakerjaan dan menghentikan pembahasan Klaster Pendidikan yang hanya bagian kecil dari RUU itu," ujarnya.

HNW menambahkan ada juga ketentuan dalam RUU Ciptaker yang sangat bermasalah karena akan menabrak prinsip negara hukum yang dianut oleh Pemerintah Republik Indonesia. Ketentuan itu misalnya Pasal 170 RUU Ciptaker, yang memungkinkan pemerintah mengubah undang-undang yang telah disepakati oleh DPR RI dan Pemerintah dengan hanya melalui peraturan pemerintah (PP).

Padahal, Pasal 5 UUD NRI 1945 secara tegas menyatakan bahwa Peraturan Pemerintah dibuat untuk melaksanakan UU, bukan untuk mengubah UU. Anehnya menurut UU tersebut, pembuatan Peraturan Pemerintah bisa dilakukan oleh Pemerintah yang dinyatakan 'dapat' berkonsultasi cukup dengan Pimpinan DPR, tidak perlu atau tidak harus dengan DPR sebagai Lembaga Perwakilan Rakyat yang oleh UUD NRI 1945 diberi kekuasaan membuat UU.

"Pasal itu jelas tidak sesuai dengan ketentuan UUD NRI 1945, sekaligus men-downgrade serta merampas kewenangan konstitusional DPR dalam proses legislasi," ujar dia.

"Kalau penyimpangan ini dilegalkan jadi UU, maka Indonesia akan diubah dari negara hukum dan demokrasi berbasiskan konstitusi, menjadi negara berbasiskan kekuasaan dan kepentingan eksekutif," jelasnya.

Mempertimbangkan semua itu, HNW mengingatkan apabila pemerintah sebagai inisiator tetap tidak mencabut keseluruhan Omnibus Law RUU Ciptaker, maka hanya akan menguras energi bangsa, yang mestinya fokus bersama-sama atasi COVID-19.

Pasalnya, ketentuan-ketentuan dalam RUU ini ini akan terus menerus dikoreksi dan dikritisi secara bersama-sama, bukan hanya oleh anggota Baleg DPR RI yang pro rakyat, tetapi juga oleh seluruh kelompok atau ormas.

"Tentunya mereka adalah orang-orang yang ingin Indonesia sebagai negara hukum yang betul-betul mementingkan dan menomorsatukan kemaslahatan bangsa dan negaranya sendiri, bukan kepentingan investor asing."

"Dan tentunya mereka juga berharap, dengan koreksi dan kritikan tersebut, Pemerintah betul-betul melaksanakan Pancasila dan UUD NRI 1945 secara baik dan benar," pungkas HNW.

(akn/ega)