315 Santri Ponpes di Polman Reaktif, Lockdown Lokal Dinilai Tak Efektif

Abdy Febriady - detikNews
Kamis, 24 Sep 2020 22:26 WIB
17 santriwati Ponpes Salafiyah Parappe di Polewali Mandar, Sulbar, diketahui terkonfirmasi COVID-19 (Abdy Febriady/detikcom)
Penyemprotan disinfektan di ponpes di Polewali Mandar, Sulbar, setelah diketahui ada santri terkonfirmasi COVID-19. (Abdy Febriady/detikcom)
Polewali Mandar -

Sedikitnya 315 santri salah satu pondok pesantren (ponpes) di Kecamatan Campalagian, Polewali Mandar, Sulawesi Barat (Sulbar), diketahui reaktif Corona. Hal ini didasari rapid test yang digelar kemarin lusa.

"Ada 300 lebih yang reaktif, sejak kemarin hingga hari ini kita telah melakukan swab," kata juru bicara satgas COVID-19 Polewali Mandar, H Haedar, saat dihubungi, Kamis (24/9/2020).

Hasib swab para santri yang reaktif baru akan diketahui dalam beberapa hari ke depan. Sebelumnya dilaporkan ada 21 orang yang terpapar Corona.

"Hasilnya kemungkinan diketahui tiga hari ke depan, karena (sampel) swab-nya dikirim ke Makassar," ujarnya.

Menurut Haedar, para santri yang reaktif saat ini menjalani isolasi mandiri di ponpes mereka. Santri yang reaktif dipisahkan dari santri yang nonreaktif.

Pihak pengelola ponpes diminta menerapkan prosedur ketat sebelum aktivitas kembali diaktifkan. Sebelum masuk ke lokasi pemondokan, wajib menyertakan hasil rapid test.

"Hanya saja, setelah beberapa lama berada di dalam pondok, ada yang bergejala dan setelah kita swab ada yang positif. Kita lanjutkan lagi, karena namanya kelompok atau komunitas, rawan terjadinya penularan yang cepat," terangnya.

Haedar berharap, baik warga maupun seluruh pengelola ponpes di daerah ini, tidak lalai dalam menerapkan protokol kesehatan demi mencegah penularan virus Corona.

"Kita berharap warga betul-betul patuh tidak mengabaikan protokol kesehatan, pun dengan semua pengelola pesantren di daerah ini, agar tidak lalai, untuk mengantisipasi terjadinya hal tidak diinginkan," tandasnya.

Terpisah, Sekretaris Daerah Polewali Mandar Andi Bebas Manggazali mengatakan pihaknya telah melakukan pertemuan dengan pihak terkait, setelah menerima laporan 21 santri di daerah ini terindikasi tertular virus Corona. Pihak ponpes memutuskan melakukan lockdown lokal untuk memecahkan masalah secara internal.

"Lockdown ini ternyata tidak memecahkan persoalan, terbukti dengan adanya lonjakan pada rapat tanggal 23 kemarin dari 21 naik menjadi 315 orang reaktif," terang Manggazali.

Dia mengatakan pemerintah telah mengambil sejumlah langkah untuk meringankan beban pengelola ponpes selama memberlakukan lockdown lokal seperti membantu ketersediaan air bersih, serta kebutuhan lainnya seperti masker dan makanan.

"Hanya saja persoalan ini tidak akan selesai jika masyarakatnya tidak patuh. Persoalan di pesantren ini jaga jarak sulit diterapkan karena dalam ruangan 7 x 3 meter ada yang sampai 30 orang dan maskernya pun sangat standar," kata dia.

(jbr/jbr)