Round-Up

6 Poin Pidato Perdana Jokowi di Sidang Umum Perserikatan Bangsa-bangsa

Hestiana Dharmastuti - detikNews
Kamis, 24 Sep 2020 06:17 WIB
Layar memperlihatkan Presiden Joko Widodo menyampaikan pidato yang telah direkam sebelumnya  pada Sidang Majelis Umum ke-75 PBB secara virtual di Markas PBB, New York, Amerika Serikat, Rabu (23/9/2020). Dalam pidatonya Presiden Joko Widodo mengajak pemimpin dunia untuk bersatu dan bekerja sama dalam menghadapi pandemi COVID-19. ANTARA FOTO/HO/Kemenlu/wpa/aww.
Presiden Joko Widodo. (Foto: ANTARA FOTO/KEMENLU)
Jakarta -

Presiden Joko Widodo (Jokowi) berpidato perdana di Sidang Majelis Umum (SMU) ke-75 Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Jokowi menyampaikan beberapa hal.

Pidato perdana Jokowi di Sidang Umum PBB melalui rekaman video yang juga disiarkan langsung akun YouTube Sekretariat Presiden, Rabu (23/9/2020). Jokowi mulai berpidato sekitar pukul 06.35 WIB.

Sidang Majelis Umum PBB tahun ini untuk pertama kalinya akan digelar secara langsung dan virtual. Terdapat pembatasan jumlah delegasi yang diizinkan hadir secara fisik, sementara pejabat tinggi akan menyampaikan pidato yang telah direkam sebelumnya (pre-recorded message).

Selain Presiden Jokowi, sejumlah menteri pun akan ikut menyampaikan pidato secara virtual, antara lain Menteri Luar Negeri Retno Marsudi, Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya, serta Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak I Gusti Ayu Bintang Darmavati.

Pidato Presiden Joko Widodo itu akan menjadi yang pertama sejak menjabat sebagai Presiden RI. Pada periode 2014-2019, Wakil Presiden Jusuf Kalla yang menyampaikan pidato untuk mewakili Indonesia di forum internasional tersebut.

Jokowi berpidato menggunakan bahasa Indonesia. Namun Jokowi juga beberapa kali menggunakan bahasa Inggris di sela-sela pidatonya.

Dalam pidatonya, Jokowi menyinggung soal perdamaian dunia. Jokowi mengatakan perang tidak akan menguntungkan siapapun.

Jokowi menilai perdamaian dunia saat ini belum terwujud. Jokowi menyoroti konflik yang masih terjadi di berbagai belahan di dunia.

Selain itu, Jokowi juga bicara seputar pandemi Corona dan berharap semua negara mendapatkan akses vaksin yang aman dan terjangkau.

Berikut 6 poin pidato perdana Jokowi di Sidang Umum PBB:

75 Tahun PBB, Perdamaian Dunia Belum Tercapai

Jokowi menilai perdamaian dunia yang selama ini diimpikan belum tercapai. Jokowi mengatakan dibentuknya PBB 75 tahun yang lalu untuk mencegah agar Perang Dunia II tidak terulang. PBB, kata Jokowi, dibentuk agar dunia bisa lebih damai dan sejahtera.

Jokowi lalu menyatakan jika perdamaian dunia saat ini belum tercapai. Menurutnya, masih banyak konflik yang terjadi di berbagai belahan dunia.

"Di usia PBB yang ke-75 ini, kita patut bertanya, apakah dunia yang kita impikan tersebut sudah tercapai? Saya kira jawaban kita sama, belum. Konflik masih terjadi di berbagai belahan dunia," ujar Jokowi.

"Kemiskinan dan bahkan kelaparan masih terus dirasakan. Prinsip-prinsip Piagam PBB dan hukum internasional kerap tidak diindahkan, termasuk penghormatan terhadap kedaulatan dan integritas wilayah. Kita semua prihatin melihat situasi ini," imbuhnya.

Bicara Pandemi: No One Is Safe until Everyone Is

Jokowi berbicara dampak dunia akibat wabah virus Corona (COVID-19) yang berdampak ke seluruh negara.

"Kita semua prihatin melihat situasi ini, keprihatinan kita menjadi besar di saat pandemi COVID-19, di saat seharusnya kita semua bersatu padu bekerja sama melawan pandemi, yang justru kita lalu menggunakan pendekatan win win pada hubungan antar negara yang saling menguntungkan," kata Jokowi dalam tayangan yang disiarkan akun YouTube Sekretariat Presiden, Rabu (23/9/2020).

Jokowi mengungkapkan dampak pandemi yang sangat luar biasa bagi seluruh dunia. Baik dari aspek kesehatan dan sosial ekonomi.

"Kita tahu dampak pandemi sangat luar biasa baik dari sisi kesehatan maupun sosial ekonomi, kita juga paham virus ini tidak mengenal batas negara, no one is safe until everyone is," ucapnya.

Jokowi mengatakan seluruh negara di dunia perlu menjaga persatuan di tengah pandemi. Menurut Jokowi, jika perpecahan terjadi maka khawatir stabilitas perdamaian akan goyah dan sulit diwujudkan.

No One Country Should Be Left Behind

Jokowi menegaskan kerja sama harus menguntungkan semua negara. Jokowi awalnya mengatakan komitmen Indonesia dalam perdamaian dunia. Jokowi menyebut Indonesia akan terus memainkan peran sebagai jembatan perdamaian.

"Tahun ini Indonesia juga merayakan kemerdekaan yang ke-75 tahun, dan sudah menjadi tekad kami, Indonesia terus berkontribusi bagi perdamaian dunia sesuai amanat konstitusi," kata Jokowi saat berpidato di Sidang Umum PBB yang juga disiarkan YouTube Sekretariat Presiden, Rabu (23/9/2020).

"Indonesia akan terus memainkan peran sebagai bridge builder, sebagai bagian dari solusi. Secara konsisten, komitmen ini terus dijalankan Indonesia, termasuk saat Indonesia duduk sebagai anggota Dewan Keamanan PBB," imbuhnya.

Jokowi mengatakan Indonesia akan selalu mengedepankan semangat kerja sama antarnegara. Menurutnya, tidak boleh ada satupun negara yang ditinggalkan oleh negara lain.

"Spirit kerja sama akan selalu dikedepankan Indonesia, spirit yang menguntungkan semua pihak tanpa meninggalkan satu negara pun. No one, no country, should be left behind. Persamaan derajat inilah yang ditekankan oleh Bapak Bangsa Indonesia, Sukarno, Bung Karno, saat Konferensi Asia Afrika di Bandung 1955 yang menghasilkan Dasasila Bandung," ujar Jokowi.

Selanjutnya
Halaman
1 2