Polisi Ungkap Tahapan Klinik di Jakpus Lakukan Praktik Aborsi

Sachril Agustin Berutu - detikNews
Rabu, 23 Sep 2020 17:19 WIB
Polisi gerebek klinik aborsi di Jakpus (Foto: Sachril/detikcom)
Polisi menggerebek klinik aborsi di Jakpus. (Sachril/detikcom)
Jakarta -

Sebuah klinik aborsi ilegal di Jakarta Pusat (Jakpus) digerebek. Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Yusri Yunus mengatakan klinik tersebut secara terang-terangan mempromosikan jasa aborsi.

"Bagaimana cara mereka menarik pasien? Itu melalui website yang ada. Ada satu website, website itu adalah klinikaborsiresmi.com," kata saat konferensi pers di Polda Metro Jaya, Jakarta, Rabu (23/9/2020).

Yusri mengatakan klinik aborsi ini mempromosikan jasanya secara terbuka melalui website.

"Nanti kita koordinasi dengan Kominfo, juga nanti dengan cyber untuk bisa patroli lagi, karena ini sangat terbuka sekali di website (klinikaborsiresmi.com) tersebut. Kemudian di media sosialnya bisa menawarkan aborsi dengan biaya yang ada," ucap Yusri.

Sementara itu, Wadir Reskrimum Polda Metro Jaya AKBP Jean Calvijn Simanjuntak memaparkan proses jasa aborsi inilah yang ditawarkan melalui website tersebut. Dia mengatakan ada beberapa tahap.

"Pertama adalah perencanaan. Perencanaan dilakukan oleh tersangka yang merupakan ibu janin ini dengan cara melihat, searching dan memastikan ada website terkait pelaksanaan aborsi. Pada saat masuk ke halaman website, di situ sudah terdata jelas ada lokasi dan biaya sehingga ada juga nomor yang dapat dihubungi," ujar Calvijn.

Calvijn menambahkan nomor yang tertera dari website itu adalah nomor salah satu pelaku. Usai nomor tersebut dihubungi, pelaku dan calon ibu yang akan menggugurkan kandungannya janjian di lokasi dekat klinik tersebut.

"Kemudian tahap kedua, persiapan. Mulai janjian dari wa (WhatsApp), terhadap yang menjemput ibu korban ini yang akan aborsi di satu lokasi persis dekat TKP, kemudian dia (pelaku) yang membawa masuk sehingga bisa masuk melalui penjaga pintu TKP. Kemudian mereka (pelaku) yang siapkan registrasi. Registrasi yang ada dengan Biaya Rp 200 ribu plus Rp 50 ribu (untuk) USG. Kemudian dilakukan USG dan seterusnya," ungkapnya.

Usai melalui tahap registrasi, proses aborsi pun dilakukan. Janin yang telah digugurkan ini, lanjut Calvijn, dibuang ke septic tank.

"Tahapan ketiga adalah tindakan yang oleh oknum dokter itu sendiri, dan dibantu 2 orang pada saat melakukan tindakan aborsi. Itu tahap tindakan yang dilakukan. Terakhir pasca-aborsi, sebelum dilakukan ini, tim yang melakukan dari penyidik, dari labfor, identifikasi, telah melaksanakan bongkar septic tank untuk memastikan apa-apa kandungan yang disedot, (benar) itu adalah bagian dari tindakan-tindakan aborsi," ujarnya.

"Karena faktanya, pada saat selesai dilakukan aborsi, selesai dilakukan, tersangka yang bantu dokter, membuang hasilnya ke WC yang ada di dalam ruangan tindakan. Itu sebabnya penyidik menyedot dan mendapatkan cairan tersebut identik darahnya, dengan darah tersangka MS yang merupakan pasien atau ibu janin tersebut," tambah Calvijn.

Sebelumnya, Polda Metro Jaya menggerebek klinik yang berlokasi Jalan Percetakan Negara III, Jakpus, Rabu (9/9) sekitar pukul 12.00 WIB. Ada 10 tersangka yang diamankan dari kasus ini, yakni LA (52), DK (30), NA (30), MM (38), YA (51), RA (52), LL (50), ED (28), SM (62), dan RS (25). Kasus ini terungkap setelah polisi menerima informasi dari masyarakat bahwa ada klinik aborsi di daerah Jakpus.

Yusri mengatakan pemilik klinik tersebut adalah LA. Pelaku LA disebut merekrut DK untuk menjadi dokter aborsi. Dalam melakukan praktik aborsi, tersangka DK dibantu pelaku YA dan LL.

Sedangkan pelaku RA adalah security. Pelaku NA berperan meregistrasi pasien dan tersangka MM melakukan USG ke pasien. Lalu pelaku ED adalah petugas cleaning service dan yang menjemput pasien serta tersangka SM adalah ibu yang ingin mengaborsi janinnya.

(idn/idn)