Polisi Akan Gelar Perkara Kasus Pelecehan Wanita di Bandara Soetta

Farih Maulana Sidik - detikNews
Selasa, 22 Sep 2020 14:52 WIB
A young woman protects herself by hand
Ilustrasi (Foto: dok. iStock)
Jakarta -

Polisi mulai menyelidiki kasus pelecehan seksual wanita berinisial LHI di Bandara Soekarno-Hatta. Polisi akan melakukan gelar perkara untuk menentukan langkah selanjutnya.

"Rencana akan kita gelarkan, mudah-mudahan secepatnya," kata Kabid Humas polda Metro Jaya Kombes Yusri Yunus kepada wartawan di Polda Metro Jaya, Jakarta, Selasa (22/9/2020).

Yusri mengatakan pihaknya akan meningkatkan status ke penyidikan jika ditemukan unsur pidana dalam kasus itu.

"Bisa kita tingkatkan penyidikan jika memang terbukti ada unsur-unsur Pasal 378 karena memang, dari keterangan PT Kimia Farma, pemalsuan ini tidak ada," katanya.

Lebih lanjut Yusri mengatakan tiga penyidik Polres Bandara Soekarno-Hatta sudah meminta keterangan kepada korban di Bali pada Senin (21/9). Korban telah membuat laporan terkait kejadian tersebut.

"Sudah membuat laporan polisi, sudah diambil keterangannya. Yang bersangkutan sudah didalami semua, memang ada pengaduan seusai apa yang dituangkan di social media yang disampaikan melalui Twitter," imbuhnya.

Seperti diketahui, kasus ini viral di media sosial setelah korban LHI menceritakan kejadiannya itu di akun Twitter. Singkat cerita, korban saat itu hendak melakukan perjalanan ke Nias pada Minggu (13/9).

Korban diminta untuk menjalani rapid test. Korban pun awalnya yakin hasil rapid test akan nonreaktif lantaran dia yakin tidak pernah berada pada komunitas yang terpapar Corona.

Namun, saat hasil rapid test keluar, dia dinyatakan reaktif Corona. Di sinilah korban mengaku mengalami pemerasan dengan dalih data rapid test bisa diganti untuk kepentingan penerbangan.

Singkat cerita, LHI mengaku tetap dipaksa lakukan rapid test ulang dengan membayar Rp 150 ribu. Dia pun akhirnya dibawa ke tempat sepi dan diminta memberikan uang tambahan senilai Rp 1,4 juta.

"Di situ dokternya bilang 'mba, saya kan sudah bantu mba nih, bisa lah mba kasih berapa, saya juga sudah telpon atas sana sini, bisa lah mba kasih', di situ aku kaget dong, yaudahlah karna gamau ribet juga aku tanyain langsung 'berapa?', si dokter jawab 'mba mampunya berapa? Misal saya sebut nominalnya takut nggak cocok' hhh si anj*ng, yaudahlah aku asal jawab 'sejuta?', eh si dokter miskin ini jawab 'tambahhin dikit lah mba' si t*i yaudah karna aku males ribet orangnya, aku tambahin jadi 1,4 juta," tulisnya.

Menyusul hal tersebut, PT Kimia Farma Diagnostika dan PT Angkasa Pura II melakukan investigasi internal. Di sisi lain, Direktur Utama PT Kimia Farma Diagnostika Adil Fadilah Bulqini mengatakan penumpang bersangkutan telah dihubungi oleh perseroan.

"PT Kimia Farma Diagnostika telah menghubungi korban atas kejadian yang dilakukan oleh oknum tersebut. PT Kimia Farma Diagnostika akan membawa peristiwa ini ke ranah hukum atas tindakan oknum tersebut yang diduga melakukan pemalsuan dokumen hasil uji rapid test, pemerasan, tindakan asusila, dan intimidasi," ujar Adil Fadilah Bulqini dikutip dari keterangan tertulis, Sabtu (19/9).

Executive General Manager Bandara Soekarno-Hatta Agus Haryadi mengatakan PT Angkasa Pura II sangat menyesalkan adanya informasi ini. Agus Haryadi menuturkan dukungan diberikan kepada seluruh pihak, termasuk keperluan untuk pengecekan CCTV dan lainnya.

"Kami sangat memberikan perhatian penuh terhadap adanya informasi ini. Kami siap bekerja sama dengan seluruh pihak termasuk sudah berkoordinasi dengan Polres Bandara Soekarno-Hatta yang saat ini tengah melakukan penyelidikan mengenai hal ini. "PT Angkasa Pura II sangat berharap hal ini tidak berulang kembali. Bersama-sama, PT Angkasa Pura II dan stakeholder harus menjaga reputasi Bandara Soekarno-Hatta," jelas Agus Haryadi.

Polisi akan Datangi Wanita di Bali yang Ngaku Dilecehkan di Soetta:

[Gambas:Video 20detik]



(fas/mei)