Selain Dijerat Pidana, Oknum Polantas yang Cabuli ABG Juga Diusut Secara Etik

Kadek Melda Luxiana - detikNews
Senin, 21 Sep 2020 17:13 WIB
Brigjen Awi Setiyono (Bil Wahid/detikcom)
Brigjen Awi Setiyono (Dok detikcom)
Jakarta -

Oknum Polisi Lalu Lintas (Polantas) di Pontianak, Kalimantan Barat, Brigadir DY, tega mencabuli seorang anak baru gede (ABG) yang ditilangnya. Polri mengatakan oknum tersebut tak hanya dikenai sanksi pidana, pelanggaran kode etik profesinya juga diusut.

"Kita serahkan ke Polda Pontianak, itu kan segala risiko, kalau anggota melanggar tentunya pasti kena. Bisa kena disiplin, bisa kena pelanggaran kode etik, bisa kena pidana," kata Karopenmas Divisi Humas Polri Brigjen Awi Setiyono di Mabes Polri, Jl Trunojoyo, Kebayoran, Jakarta Selatan, Senin (21/9/2020).

Awi menuturkan kasus tersebut saat ini sedang diproses oleh Polda Pontianak. Soal apakah Brigadir DY nantinya akan dicopot dari keanggotaan Polri, ia menyebut hakimlah yang akan menentukan keputusan akhir.

"(Kemungkinan dicopot) Itu nanti, kembali lagi. Kan ada prosesnya harus periksa dulu, bagaimana. Nanti hakim atau yang ditunjuk sebagai ketua sidangnya menentukan apa nanti. Kita tunggu lah prosesnya, kan baru kejadian," ujar Awi.

Untuk diketahui, Polresta Pontianak telah menerima hasil visum gadis ABG yang diduga dicabuli oknum polisi di hotel. Oknum anggota Satlantas itu pun ditetapkan jadi tersangka.

"Ya sudah diterima hasil visum, bahwa benar telah terjadi persetubuhan. Oleh karenanya, kepada yang bersangkutan atau pelaku sudah kita tetapkan sebagai tersangka terkait dengan Pasal 76 huruf d UU Nomor 35 Tahun 2014 tentang perlindungan anak juncto Pasal 81 ayat 2 ancamannya maksimal 15 tahun," kata Kapolresta Pontianak Kombes Komarudin kepada wartawan.

Brigadir DY saat ini sudah ditahan. Komarudin mengatakan pihaknya langsung mengamankan dan menahan oknum polisi itu sejak ada laporan masuk. Dia saat itu diperiksa terkait dugaan pelanggaran kode etik sambil menunggu bukti-bukti lainnya.

"Sejak hari pertama sudah ditahan, begitu ada laporan kita sudah menindaklanjuti dengan pemeriksaan dan mengamankan pelaku sambil menunggu bukti-bukti dan lainnya, kepada pelaku kita kenakan terkait dengan pemeriksaan dugaan pelanggaran kode etik profesi Polri. Hari ini karena dua alat bukti sudah cukup, ditandai dengan keluarnya visum dari dokter, maka kita alihkan dari tadinya proses kode etik profesi sekarang ke pidana," ujarnya.

Sebelumnya, pertemuan pelaku dengan korban berawal dari pelanggaran lalu lintas (lalin). Komarudin mengatakan pelanggaran lalu lintas itu berupa korban tidak memakai helm. Setelah itu, terjadi percakapan.

"Tapi kalau masalah modus tilang itu saya tegaskan tidak seperti demikian, hanya kebetulan tertangkap tangan pelanggaran yang memang kasatmata tidak menggunakan helm, setelah itulah ada mungkin percakapan dan sebagainya itu nanti yang akan kita tuangkan dalam berita acara pemeriksaan," kata Komarudin.

Oknum polisi itu lalu memeriksa surat-surat kendaraan. Setelah itu, membawa korban ke pos lantas. Korban merupakan orang yang dibonceng dan merupakan pelajar SMP yang masih duduk di kelas IX.

"Pelanggaran kasatmata tidak gunakan helm, diperiksa surat-suratnya, dibawa ke pos lantas, di sana mungkin terjadi dialog dan sebagainya, nanti baru kita kuatkan di proses pemeriksaan," ucapnya.

Korban lalu dibawa ke hotel. "Rekan (korban) nggak (ikut ke hotel), yang pergi hanya korban dan pelaku," tuturnya.

(elz/ear)