Round-Up

Sentilan 2 Menko Jokowi Saat PSBB Ketat Akan Berlaku di DKI

Tim detikcom - detikNews
Minggu, 13 Sep 2020 22:03 WIB
Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan memantau situasi di Stasiun Sudirman-MRT Dukuh Atas
Foto: Gubenur DKI Jakarta Anies Baswedan (Luqman Arunanta/detikcom)
Jakarta -

Kebijakan rem darurat yang diambil Gubernur DKI Anies Baswedan dalam memberlakukan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) secara ketat ternyata menjadi sorotan. Kebijakan itu bahkan disoroti dua menteri koordinator.

Salah satunya, Menteri Koordinator Perekonomian sekaligus Ketua Komite Penanganan COVID-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (PC-PEN) Airlangga Hartarto mengingatkan Anies Baswedan soal rencana penerapan PSBB secara ketat mulai besok, 14 September 2020.

Airlangga mengingatkan agar kebijakan yang ditempuh untuk mencegah meluasnya penyebaran COVID-19 di ibu kota tidak berlebihan. Dalam hal ini, dirinya menekankan pentingnya micromanagement atau manajemen mikro.

"Kita melihat micromanagement itu menjadi penting sehingga dengan demikian kita bisa tahu sumbernya, kenapanya, sehingga kita tidak dalam tanda petik mengambil langkah-langkah yang katakanlah bukan salah, (melainkan) overdosis," kata dia dalam diskusi yang tayang di saluran YouTube Medcom.id, Minggu (13/9/2020).

Airlangga mengatakan manajemen mikro ini sederhananya adalah menyetop penularan virus Corona dengan menutup tempat-tempat tertentu yang menjadi area rawan pemaparan COVID-19. Jadi bukan menutup seluruh aktivitas.

Dirinya mengingatkan pula bahwa Jakarta bukan sebuah provinsi yang hanya mencerminkan 20% perekonomian negara, tetapi dia adalah pusat syaraf perekonomian nasional.

"Sehingga apapun yang diambil merefleksikan, berpengaruh terhadap kebijakan nasional," ujarnya.

Airlangga juga menyebut pernyataan Anies saat mengumumkan PSBB ketat itu berdampak negatif pada pasar modal dan pasar uang. Laju IHSG sempat turun.

Beruntungnya pada Jumat kemarin, pasar kembali tenang sehingga laju IHSG mulai positif. Sementara indeks harga saham gabungan di negara-negara lain Asia terkontraksi akibat menunggu pengumuman kebijakan The Fed.

"Hanya Indonesia yang naik karena dalam tanda petik dosisnya (kebijakannya) dihitung kembali lah," tambah Airlangga.

Selanjutnya
Halaman
1 2