Negara Jadi-jadian

Negara Jadi-jadian Seperti Paguyuban di Garut Kenapa Terus Muncul?

Danu Damarjati - detikNews
Sabtu, 12 Sep 2020 10:25 WIB
Tampang Ketua Paguyuban di Garut yang ubah lambang Pancasila
Foto Mister Sutarman, pemimpin Paguyuban Tunggal Rahayu. (Hakim Ghani/detikcom)

Meski begitu, fenomena ini juga tidak eksklusif muncul di masyarakat Sunda saja. Di berbagai daerah juga ada. Acap kali kelompok semacam ini muncul dengan menonjolkan identitas kebudayaan. Tak jarang pula kelompok seperti ini sekadar penipu yang mencari keuntungan duit dari masyarakat yang teperdaya. Masyarakat harus jeli.

"Saya percaya masyarakat tidak bodoh kok, mereka punya kesanggupan untuk menyerap informasi," kata Hawe.

Dihubungi detikcom secara terpisah, sosiolog dari UGM Arie Sujito menganggap fenomena kelompok 'negara jadi-jadian' yang aneh-aneh itu tidak perlu dibesar-besarkan. Apalagi saat ini Indonesia perlu berkonsentrasi menghadapi COVID-19.

"Negara tidak perlu terancam dengan hal-hal seperti ini. Kelompok-kelompok seperti itu sekadar romantisme kultural saja," kata Arie.

Sunda EmpireSunda Empire Foto: tangkapan layar YouTube

Di zaman teknologi informasi, masyarakat, terlebih anak muda, sudah semakin rasional. Arie percaya masyarakat tidak mudah tertipu oleh kelompok semacam Paguyuban Tunggal Rahayu di Garut dan sejenisnya.

"Yang paling penting adalah seberapa besar legitimasi masyarakat atas kelompok itu. Apabila kelompok semacam itu tidak mendapatkan legitimasi masyarakat (tidak diakui secara luas), maka kelompok-kelompok semacam itu akan dilupakan dengan sendirinya," kata Arie.

Di luar tanah Pasundan, pada awal tahun pernah muncul kerajaan fiktif bernama Keraton Agung Sejagat di Purworejo, Jawa Tengah. Pengikutnya banyak juga saat itu. Sosiolog dari Universitas Indonesia (UI) Imam B Prasodjo menilai kelompok itu adalah kesukuan baru (neotribalisme).

Neotribalisme tumbuh karena dalam solidaritas yang kemudian ditambahkan narasi-narasi. Untuk kasus kerajaan fiktif, mitologi cerita kerajaan jadi pembungkus narasi.

"Nah, narasi-narasi atau pemaknaan-pemaknaan yang bersumber dari campuran yang sebenarnya tidak jelas sumbernya. Tapi orang senang saja membuat cerita. Apalagi di Indonesia ini kan orang berbakat buat cerita-cerita. Ini campuran dari pengetahuan modern dan tradisional tapi bukan kajian akademis. Makanya ceritanya kacau. (Contohnya) Kekaisaran Matahari itu dari mana datangnya itu," kata Imam Prasodjo, 18 Januari silam.

Halaman

(dnu/fjp)