Pimpinan MPR: Lambang Pancasila Tidak Bisa Diubah!

Nur Azizah Rizki Astuti - detikNews
Rabu, 09 Sep 2020 16:55 WIB
Majelis Pemusyawaratan Rakyat (MPR) periode 2019-2024 dipimping oleh Ahmad Basarah (PDIP), Bambang Soesatyo (Golkar), Ahmad Muzani (Gerindra), Lestari Moerdijat (NasDem), Jazilul Fawaid (PKB), Syarief Hasan (Demokrat), Hidayat Nur Wahid (PKS), Zulkifli Hasan (PAN), Arsul Sani (PPP), dan Fadel Muhammad (DPD).
Ahmad Muzani (Lamhot Aritonang/detikcom)
Jakarta -

Paguyuban Tunggal Rahayu di Garut, Jawa Barat, membuat geger karena mengubah lambang Pancasila. Pimpinan MPR RI menegaskan lambang Pancasila tidak bisa diubah ataupun ditambah.

"Yang pasti lambang negara, Pancasila, dan Bhinneka Tunggal Ika adalah sesuatu yang sudah baku, paten, sebagai sebuah simbol dan lambang negara, sebagai semboyan negara Bhinneka Tunggal Ika, itu tidak bisa diubah atau ditambah atau dikurangi dan seterusnya," kata Wakil Ketua MPR Ahmad Muzani di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (9/9/2020).

"Kalau kemudian mau menggunakan lambang Garuda itu untuk kepentingan yang lain, mestinya lambang yang sakral itu tidak diubah apa pun," imbuhnya.

Menurut Muzani, paguyuban itu perlu dimintai keterangan oleh aparat kepolisian. Hal itu perlu dilakukan untuk memastikan hukuman bagi pengubah lambang Garuda.

"Saya tidak paham apakah itu memenuhi syarat (makar) atau tidak. Tapi yang pasti maksud itu harus dicek, si ormas itu harus dicek. Menurut saya, sebaiknya dimintai keterangan," tegasnya.

Sebelumnya, sekelompok orang yang mengaku dari Paguyuban Tunggal Rahayu mengubah lambang Pancasila dan menambah kata pada semboyan Bhinneka Tunggal Ika.

Mereka mengubah lambang Pancasila di mana kepala burung Garuda dihadapkan ke depan. Selain itu, kelompok ini juga diketahui merubah semboyan Bhinneka Tunggal Ika. Mereka mengubahnya menjadi 'Bhinneka Tunggal Ika Soenata Logawa'.

Tak hanya itu, mereka juga ternyata mencetak uang sendiri. "Benar, itu dari mereka. (Nilai nominal) uangnya macam-macam," kata Kepala Badan Kesbangpol Garut Wahyudijaya.

(azr/zak)