Ketua MPR Ingatkan Pentingnya SDM yang Membangun Karakter Bangsa

Abu Ubaidillah - detikNews
Senin, 07 Sep 2020 12:01 WIB
Ketua MPR RI Bambang Soesatyo
Foto: Dok. MPR RI
Jakarta -

Ketua MPR RI, Bambang Soesatyo (Bamsoet) mengatakan pentingnya membangun komitmen bersama. Perkembangan zaman dan kemajuan teknologi tak boleh menghilangkan nilai-nilai kemanusiaan dan membutakan visi bangsa.

Bamsoet menjelaskan pendidikan sebagai kunci utama membangun karakter bangsa harus melibatkan unsur pembangunan mental, karakter, serta wawasan kebangsaan yang kuat sehingga dibutuhkan sumber daya manusia yang unggul, berhati Indonesia, dan berideologi Pancasila.

"Ini penting diingatkan, karena dewasa ini, arus globalisasi dan perkembangan teknologi telah menawarkan produk-produk dan gaya hidup yang dikemas sedemikian rupa, sehingga terlihat menarik, khususnya bagi generasi muda," ujar Bamsoet dalam keterangannya, Senin (7/9/2020).

Ia mengatakan hal tersebut saat memberikan sambutan dalam 'Pengenalan Kehidupan Kampus Mahasiswa Baru (PKKMB) Universitas Negeri Semarang Tahun 2020' secara virtual di Jakarta, Minggu (6/9).

Namun menurut Bamsoet tidak semua nilai global yang dibalut dengan atribut modernitas tersebut selaras dengan jati diri dan keindonesiaan. Selain itu kelalaian dan sikap abai dalam menyaring masuknya faham-faham radikal dan faham-faham lain yang tidak selaras dengan jiwa Pancasila disebut bisa merusak mental generasi muda dan sendi-sendi peradaban bangsa.

Kepala Badan Bela Negara FKPPI ini menyebut era revolusi industri 4.0 menghadirkan simplifikasi pada banyak hal serta menghadirkan tatanan baru. Semua bidang dituntut untuk berubah dan menyesuaikan diri dengan standar kemapanan yang baru, mulai dari dunia bisnis, perbankan, transportasi, sosial kemasyarakatan, hingga dunia pendidikan.

"Revolusi industri secara fundamental telah mengubah cara kita bekerja, berinteraksi, dan menjalani kehidupan. Dalam konteks ini, mahasiswa dituntut melengkapi kapasitas diri dengan beberapa pengembangan softskill, salah satunya adalah kepemimpinan," sambungnya.

Menurutnya, hal ini dilatarbelakangi oleh pemikiran bahwa generasi muda saat ini adalah penerus estafet kepemimpinan nasional di masa depan sehingga revitalisasi kepemimpinan milenial muda mau tidak mau harus menjadi prioritas kebijakan.

Ia menuturkan revitalisasi kepemimpinan harus bisa menjadi jawaban atas berbagai potensi persoalan yang muncul pada era industri 4.0. Karena karakteristik era 4.0 yang bersandar pada aplikasi teknologi informasi dan digitalisasi di semua sektor kehidupan, maka revitalisasi kepemimpinan milenial harus menempatkan literasi teknologi sebagai prioritas utama.

"Perkembangan teknologi yang demikian pesat hanya bisa disikapi dengan dua alternatif, yaitu adaptasi dan inovasi. Dengan segala potensi dan sumberdaya yang dimilikinya, generasi muda diharapkan tidak berfikir dan bersikap statis di zona nyaman, tetapi senantiasa berusaha mencari alternatif-alternatif dan menciptakan kreasi baru dalam menyikapi berbagai persoalan," paparnya.

Wakil Ketua Umum Pemuda Pancasila ini mengatakan sikap kreatif dan inovatif yang bisa mengubah ketidakmungkinan menjadi peluang sangat penting pada era 4.0 karena ketersediaan lapangan kerja cenderung teredukasi dari waktu ke waktu.

Bamsoet mengatakan generasi muda penting untuk mengedepankan pemikiran yang kritis dan terbuka untuk melihat segala sesuatu dari berbagai sudut pandang. Selain diperlukan kemampuan untuk menyaring informasi yang masuk, agar bisa dijadikan landasan bersikap dan bertindak secara akuntabel.

"Semua sepakat bahwa kita butuh ilmu pengetahuan dan teknologi yang membuat kita bisa berlari dan melompat agar tidak tertinggal dari bangsa lain. Namun kita juga sepakat, bahwa generasi muda kita tidak cukup hanya sekedar pintar dan cerdas. Tetapi juga harus mempunyai karakter dan jatidiri sebagai manusia Indonesia," pungkasnya.

(prf/ega)