Sanksi Tak Biasa Pelanggar PSBB: Push Up, Tidur di Peti Mati, Masuk Ambulans

ADVERTISEMENT

Sanksi Tak Biasa Pelanggar PSBB: Push Up, Tidur di Peti Mati, Masuk Ambulans

Tim detikcom - detikNews
Jumat, 04 Sep 2020 10:37 WIB
Warga yang bandel tak pakai masker diberi sanksi dengan dimasukkan ke dalam peti mati di Kalisari, Jakarta Timur, Kamis (3/9/2020).
Warga dihukum tidur di peti mati. (Agung Pambudhy/detikcom)
Jakarta -

Beragam sanksi diterapkan kepada para pelanggar pembatasan sosial berskala besar (PSBB). Dari mulai sanksi denda hingga hukuman yang tidak biasa.

Hukuman tidak biasa bagi pelanggar PSBB itu mulai dari push up sampai masuk ke ambulans. Bahkan, ada juga hukuman untuk tidur di peti mati.

Sanksi-sanksi itu diberikan dengan harapan untuk memberikan efek jera bagi pelanggar PSBB. Baik bagi warga yang nekat tidak bermasker di masa pandemi virus Corona (COVID-19) maupun yang berkerumun.

Berikut sanksi-sanksi tak biasa itu:

1. Push Up

Push up adalah salah satu hukuman yang kerap diterapkan. Sejumlah daerah, seperti DKI Jakarta dan Kota Bogor, kerap kali menghukum para pelanggar PSBB dengan hukuman push up.

Pada April 2020, di DKI Jakarta, tepatnya di Jakarta Selatan, Satpol PP menghukum warga yang tak menggunakan masker. Kala itu warga terjaring razia PSBB yang digelar di wilayah itu.

Hukuman push up juga diberikan pada warga yang nekat berkerumun di masa PSBB di Jakarta Barat beberapa waktu lalu.

Kemudian di Kota Bogor, puluhan orang terjaring dalam razia masker pada Selasa (25/8) lalu. Mereka yang kedapatan tidak memakai masker pun diberikan sanksi menyapu jalanan, menyebutkan butir pancasila hingga push up.

2. Menyapu Jalan

Hukuman menyapu jalan juga cukup digemari beberapa wilayah. Salah satunya DKI Jakarta.

Sejak beberapa bulan lalu, Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta mulai menerapkan kerja sosial bagi pelanggar PSBB. Mereka diberi tanda mengenakan rompi oranye lalu membersihkan fasilitas umum seperti menyapu jalan.

Rompi oranye tersebut bertuliskan 'Pelanggar PSBB'. Satpol PP akan langsung memberikan sanksi di lokasi saat ditemukan warga yang melanggar peraturan di PSBB.

"Mereka kumpul-kumpul. Misal ojek kumpul-kumpul lebih dari lima orang. Ya sudah kita suruh nyapu. Pertama kita kasih surat teguran. Habis itu, kita berikan hukuman. Karena dia tidak pakai masker, kita berikan hukuman nyapu fasos-fasum (fasilitas sosial-fasilitas umum)," ucap Kepala Seksi Operasional Satpol PP Jakarta Barat Ivand Sigiro saat dihubungi, Kamis (14/5).

Hukuman menyapu jalanan itu pun kerap dijumpai di beberapa kesempatan. Misalnya di area car free day (CFD). Satpol PP kerap menindak warga yang nekat tak mengenakan masker saat CFD dengan hukuman menyapu jalanan.

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT