Ketua DPRD Makassar Sesalkan Aksi Anarkis Mahasiswa Rusak Ruang Paripurna

Noval Dhwinuari Antony - detikNews
Selasa, 01 Sep 2020 15:41 WIB
Ketua DPRD Makassar Rudianto Lallo (Noval-detikcom).
Ketua DPRD Makassar Rudianto Lallo (Noval/detikcom)
Makassar -

Ketua DPRD Makassar Rudianto Lallo menyesalkan aksi mahasiswa di Gedung DPRD Makassar berujung perusakan ruang rapat paripurna dan sejumlah fasilitas lain. Rudi menyoroti kerja Sekretaris Dewan (Sekwan) hingga kecolongan.

"Kita menyayangkan aksi adik-adik mahasiswa yang berujung anarkis apalagi sampai merusak fasilitas dan aset negara. Tidak seharusnya penyampaian aksi unjuk rasa itu dilakukan secara anarkis atau merusak fasilitas karena di DPRD sudah disediakan tempat (menyampaikan aspirasi)," ujar Rudi kepada detikcom, Selasa (1/9/2020).

Menurut laporan yang diterima Rudi, sejumlah mahasiswa mulai melakukan aksi di Gedung DPRD Makassar pada Senin (31/8) sore lalu. Karena tidak bertemu dengan anggota Dewan, para mahasiswa kemudian menginap di Gedung DPRD dan melanjutkan aksinya pada pagi tadi sehingga berujung ricuh.

Rudi menyebut ada miskomunikasi sehingga mahasiswa merangsek masuk ke ruang rapat paripurna dan merusak fasilitas di dalamnya. Dia menyoroti Sekwan yang kecolongan membiarkan mahasiswa masuk ke ruang paripurna.

"Ada semacam pembiaran adik-adik ini sampai masuk ke ruang paripurna. Seandainya DPRD sigap itu (Sekwan) kan tidak perlu di masuk ke ruang paripurna, apalagi ruang paripurna kan jarang digunakan, nanti pada saat rapat paripurna baru dibuka, itu terkunci kok bisa masuk," jelasnya.

Lebih lanjut Rudi menyayangkan Sekwan yang baru melapor ke pimpinan dan anggota DPRD Makassar setelah aksi anarkis mahasiswa terjadi. Menurutnya, jika Sekwan tidak telat lapor, hal perusakan tidak terjadi.

"Andainya ini kemarin (disampaikan) meskipun jam pulang kantor dia datang dan dilaporkan ke pimpinan DPRD pasti saya kira tidak seperti ini," ucapnya.

Sejumlah mahasiswa yang terlibat aksi anarkis tersebut kini masih diperiksa polisi. Rudi menyerahkan sepenuhnya kepada polisi.

"Karena polisi mau mengetahui mengapa meski terjadi aksi anarkisme atau perusakan, apa motifnya," katanya.

(nvl/zap)