Round-Up

Canda Jelangkung Gubsu Edy, dari Corona Hingga Firli

Tim detikcom - detikNews
Jumat, 28 Agu 2020 07:29 WIB
Rapat koordinasi pemberantasan korupsi di Sumatera Utara (Ahmad Arfah-detikcom)
Foto: Rapat koordinasi pemberantasan korupsi di Sumatera Utara (Ahmad Arfah-detikcom)
Medan -

Gubernur Sumatera Utara (Gubsu) Edy Rahmayadi kembali melontarkan candaan soal jelangkung. Kali ini, candaan jelangkung itu dialamatkan kepada Ketua KPK Firli Bahuri.

Edy dan Firli sama-sama hadir dalam Rapat Koordinasi Pemberantasan Korupsi Terintegrasi Pemerintah Daerah se-Sumatera Utara di Medan, Kamis (27/8/2020). Edy lebih dulu memberi sambutan.

Edy mengawali sambutannya dengan menyebut Firli sudah tiga kali berjanji datang ke Sumut. Dia pun bersyukur akhirnya Firli bisa memenuhi janji.

"Sekarang kalau nggak hadir juga keterlaluan. Beliau hadir, rombongannya juga sudah dikirim duluan ke sana sini. Ini lah KPK," ujar Edy.

Setelah itu, Edy mulai bercerita soal dirinya yang sulit bertemu Firli yang menjabat sebagai Ketua KPK. Edy mengatakan ada protokol ketat sehingga agenda Firli tak boleh diketahui.

"Saya nggak mau bicara panjang di sini karena saya juga cukup sulit untuk jumpa Pak Firli ini. Datang dan pergi, katanya tak boleh diketahui, wah sama dengan jelangkung ini. Ya sudah saya ikuti memang itu aturannya," ucap Edy disambut tawa peserta rapat.

Masih dengan nada bercanda, Edy mengaku kasihan dengan Firli. Dia mengatakan dirinya dan Firli bahkan tak sempat untuk berbincang santai sambil bernostalgia karena ketatnya protokol KPK.

"Kasihan benar Pak Firli ini kami mau nostalgia, mau ngobrol pun tak bisa. Disiapkan kemarin, bapak hanya boleh di sini waktunya segini, tempatnya di sini. Terpaksa saya adukan ini karena supaya saya tak punya beban, unek-unek ini," ujar Edy.

Dalam sambutannya ini, Edy meminta KPK memberi pendampingan dalam penuntasan masalah agraria yang terjadi di Sumut. Edy mengatakan masalah agraria di Sumut adalah yang paling sulit di dunia.

"Inilah awal harus kita selesaikan soal agraria ini dan seluruh dunia, bukan hanya seluruh Indonesia, persoalan pertanahan yang paling berat adalah di Sumatera Utara," ujarnya.

Edy menyebut masalah agraria di Sumut sulit diselesaikan karena banyak tanah yang tumpang tindih sejak era reformasi. Dia meminta pendampingan dari KPK agar penuntasan konflik agraria di Sumut berjalan dengan baik.

"Sejak reformasi '98 sudah saling tindih bertindih mana yang benar, mana yang tidak benar, mana yang salah semua sudah tidak bisa kita tentukan lagi. Untuk itu, Bapak Firli kami mohon dengan segala hormat, kami sudah sepakat dengan Forkopimda akan menyelesaikan hal ini. Baik dari Kapolda, Kajati, Pangdam kami akan bersama-sama menyelesaikan ini," ujarnya.

"Kalau perlu buka kantor KPK baru di sini, biar bisa dampingi secara pasti," sambung Edy.

Tonton juga 'Duh..! Gubernur Edy Sebut Wabah Demam Babi Afrika Melanda Sumut':

[Gambas:Video 20detik]

Selanjutnya
Halaman
1 2