Aulia Kesuma Tetap Divonis Mati, Ini Kronologi Pembunuhan Sadis Pupung-Dana

Andi Saputra - detikNews
Rabu, 26 Agu 2020 17:01 WIB
Rekonstruksi Pembunuhan Suami-Anak Tiri oleh Aulia Kesuma
Foto: Rekonstruksi pembunuhan suami-anak tiri oleh Aulia Kesuma (Rolando)
Jakarta -

Aulia Kesuma tetap dihukum mati oleh Pengadilan Tinggi (PT) Jakarta karena membunuh suaminya, Pupung dan anak tirinya, Dana. Ikut dihukum mati pula Geovanni Kelvin Oktavianus Robert. Bagaimana ceritanya?

Berikut kronologi kasus pembunuhan sadis itu yang dikutip dari putusan PT Jakarta, Rabu (26/8/2020):

Juni 2019
Aulia Kesuma merasa kesulitan dengan pembayaran angsuran hutang-hutangnya tiap bulan kepada pihak bank yang mencapai jumlah milyaran rupiah. Aulia meminta suaminya menjual rumah yang ditempati untuk membayar utang tapi ditolak suaminya.

Dari sini muncul niat jahat untuk menghabisi nyawa suaminya. Namun harta akan terhalang jatuh ke tangannya apabila Dana masih hidup. Maka Dana pun harus dilenyapkan.

Aulia kemudian menelepon mantan pembantunya, Karsini alias Tini untuk mencari dukun santet. Karsini menyatakan suaminya, Rody Syaputra Jaya alias Rody tahu akan dukun santet itu. Posisi Karsini-Rody di Lampung.

Masih di bulan yang sama, Rody meminta uang Rp 45 juta untuk membayar dukun yang akan menyantet Pupung. Rody mengakaj Supriyanto alias Alpat mencari dukun santet.

Juli 2019
Segala cara santet dilakukan tapi tidak mempan. Rody menawarkan agar pembunuhan dilakukan dengan ditembak. Rody meminta uang Rp 25 juta untuk membeli pistol dan pelurunya.

15 Agustus 2019
Rody kembali mencari dukun di Yogyakarta.

16 Agustus 2019
Terjadi pertemuan antara Aulia-Rody-Geovani-dukun di sebuah tempat makan di Yogyakarta. Dibuat skenario pembunuhan, dari santet, perampokan hingga dibakar. Dipilih cara dibakar dan Aulia mentrarsnfer Rp 25 juta untuk pelaksanannya.

Setelah itu, Rody susah dihubungi. Aulia kemudian meminta bantuan pembantunya, Teti agar mencarikan kenalan dukun. Dirujuklah nama Aki.

21 Agustus 2019
Aulia bertemu Aki yang mengaku dukun santet. Aki mengaku tidak sanggup. Aulia meminta Aki mencarikan orang yang bisa membunuh suaminya dengan imbalan Rp 100 juta.

23 Agustus 2019
Terjadi pertemuan lagi antara Aulia-Rody-Karsini di sebuah hotel di Pasar Minggu untuk mematangkan rencana pembunuhan. Aulia membeli sejumlah obat tidur untuk dipakai membunuh suaminya.

Di hari itu, datang eksekutor yaiu Kusmawanto dan Nursahid. Keduanya direkrut oleh Aki.

14.30 WIB
Aulia membeli 5 pasang kaos kaki dan 4 pasang sandal jepit untuk menghilangkan sidik jari. Dibeli juga korek api dan obat nyamuk bakar.

Malam harinya, Supriyanto sakit. Rody-Karsini-Supriyanto pulang ke Lampung.

20.30 WIB
Aulia-Kusmawanto-Nursahid-Giovanni tiba di rumah TKP. Mereka lalu menyebar sesuai tugas masing-masing. Aulia memberikan jus yang telah diberi obat tidur namun tidak kunjung tidur. Setelah lama dinanti, Pupung tertidur.

23.30 WIB
Aulia mematikan lampu kamar. Kusmawanti dan Nursahid melakukan aksinya hingga Pupung tewas.

24 Agustus 2019
04.30 WIB

Giliran Dana yang dihabisi di kamarny.

05.30 WIB
Aulia dkk menyiapkan cara pembuangan mayat. Pupung dan Dana disiram bensin dan diletakkan di belakang mobil yang telah dilubangi tangki bensinnya.

10.30 WIB
Aulia selesai bersih-bersih bekas pembunuhan. Obat nyamuk bakar dinyalakan.

17.00 WIB
Aulia ke apartemen di Kalibata.

19.00 WIB
Tetangga Aulia memberitahukan garasi rumah Aulia kebakaran. Aulia mengecek ternyata mayat Pupung dan Dana tidak ikut terbakar. Aulia kembali ke apartemem di Kalibata dan istirahat.

25 Agustus 2019
Aulia kembali ke rumah di Lebak Bulus bersama Geovanni. Mereka menggotong mayat Pupung dan Dana ke mobil. Keduanya beriringan dengan mobil menuju Sukabumi.

11.30 WIB
Aulia-Geovanni membuang mayat Pupung-Dana di jalan raya Cidahu, Parakan Salah, Sukabumi. Setelah itu, korban dibakar menggunakan bensin. Geovanni ikut terpercik bensin sehingga terbakar sebagian dan mengalami luka bakar. Keduanya buru-buru pulang dan Geovanni berobat.

Belakangan, kasus ini terungkap dan para pelaku diproses secara hukum.

15 Juni 2020
PN Jaksel menjatuhkan hukuman mati kepada Aulia-Geovanni.
PN Jaksel menjatuhkan hukuman penjara seumur hidup kepada Kusumawanto alias Agus dan Muhammad Nursahid

28 Juli 2020
PT Jakarta menguatkan vonis mati ke Kusumawanto dan Nursahid.

18 Agustus 2020
PT Jakarta menguatkan vonis mati kepda Aulia dan Geovanni.

Versi Pengacara Aulia
Dalam memori bandingnya, pengacara Aulia-Geovanni meminta kliennya keringanan hukuman dengan mengajukan sejumlah alasan, di antaranya:

Bahwa Majelis Hakim Tingkat Pertama telah salah dan keliru dalam mempertimbangkan fakta-fakta persidangan maupun penerapan hukumnya dengan memberikan putusan dengan menyatakan Para Terdakwa telah terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana turut serta melakukan pembunuhan berencana serta menjatuhkan pidana kepada Para Terdakwa dengan hukuman mati;

Bahwa hukuman yang diberikan Majelis Hakim Tingkat pertama terhadap Para Terdakwa sangat tidak tepat dan keliru sehingga menimbulkan ketidak adilan bagi Terdakwa I dan Terdakwa II;

(asp/gbr)