PWI Dukung Proses Hukum Kasus Peretasan Tempo.co dan Tirto

Isal Mawardi - detikNews
Rabu, 26 Agu 2020 08:10 WIB
Pemred Tempo.co dan Tirto laporan peretasan situs ke polisi
Pemred Tempo.co dan Tirto laporan peretasan situs ke polisi. (Yogi Ernes/detikcom)
Jakarta -

Pemimpin Redaksi (Pemred) Tirto, Sapto Anggoro, dan Tempo.co, Setri Yasra, melaporkan kasus peretasan website ke Polda Metro Jaya. Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) mendukung pelaporan kasus peretasan itu.

"Setuju kasus itu dilaporkan. Saya termasuk yang mendorong teman-teman (media) agar diadukan ke pihak yang berwajib supaya diproses secara hukum," kata Ketua Dewan Kehormatan PWI Ilham Bintang kepada detikcom, Selasa (25/8/2020).

Ilham mengecam tindakan peretasan website pers tersebut. Hal itu, kata Ilham, sama saja dengan memberantas hak dan kewajiban pers dalam memberikan informasi yang valid kepada masyarakat.

"Padahal hak dan kewajiban itu dilindungi oleh UU Pers," kata Ilham.

Menurut Ilham, masyarakat dan pers merugi akibat peristiwa peretasan ini. Masyarakat tidak dapat memperoleh informasi yang benar karena website pers dibajak.

"Begitu juga dengan pers hadapi hambatan menunaikan kewajibannya memberi informasi kepada publik," lanjut Ilham.

Diberitakan sebelumnya, Pemred Tempo.co dan Tirto melaporkan aksi peretasan website ke Polda Metro Jaya. Peretasan situs berita yang terjadi pada Jumat (21/8) dini hari lalu.

"Kita ke Polda melaporkan adanya kejadian peretasan terhadap Tirto, tentang hilangnya berita dan penggantian berita yang di luar kita ketahui," kata Pemred Tirto, Sapto, ditemui di Polda Metro Jaya, Jakarta, Selasa (25/8).

Sapto menjelaskan total ada tujuh berita Tirto yang diretas dan dihilangkan. Dari tujuh berita tersebut, dua berita lainnya juga mengalami perubahan tulisan tanpa diketahui redaksi Tirto.

Hal senada disampaikan oleh Pemred Tempo.co, Setri Yasra. Setri mengatakan upaya peretasan yang dialami oleh medianya serta Tirto harus mendapatkan perhatian serius dari pemerintah.

"Ini bukan soal Tempo atau Tirto, tapi bayangkan ini ada media mainstream yang artinya orang mikir 10 kali tapi bisa (diretas). (Lalu) apa yang terjadi dengan orang-orang sipil tiba-tiba handphone kita diretas? Kalau dibiarkan, peretasan ini bisa sama dengan pembredelan Tempo dulu dari segi substansi ya," jelas Setri.

(isa/aud)