Hakim Tanya Kendala Kasus PS Store Baru Disidang Padahal Diungkap 2017

Isal Mawardi - detikNews
Senin, 24 Agu 2020 17:28 WIB
Tim Penindakan dan Penyidikan Kanwil Direktorat Jenderal Bea dan Cukai Jakarta, Frankie Tokoro (kiri) saat memberikan kesaksian di PN Jaktim (Isal Mawardi/detikcom)
Tim Penindakan dan Penyidikan Kanwil Direktorat Jenderal Bea dan Cukai Jakarta, Frankie Tokoro (kiri) saat memberikan kesaksian di PN Jaktim (Isal Mawardi/detikcom)
Jakarta -

Penyidik Bea-Cukai mengungkap pihaknya telah mendeteksi kasus PS Store sejak lama. Tim Penindakan dan Penyidikan Kanwil Direktorat Jenderal Bea dan Cukai Jakarta, Frankie Tokoro, mengatakan Bea-Cukai telah mendeteksi kasus PS Store sejak 2017.

Frankie mengatakan awalnya Bea-Cukai menemukan adanya pengiriman barang ilegal dari Batam menuju Bandung lewat pesawat.

"Informasi lapangan itu di awal tahun 2017 sudah booming ada penjualan HP (ilegal), itu sudah kami pantau di lapangan, itu (berawal dari) kasus di Bandung," kata Frankie di PN Jaktim, Jalan Dr Sumarno, Cakung, Jakarta Timur, Senin (24/8/2020).

"(Informasi) Dari Bea Cukai Bandung, ada penyelundupan dari Batam ke Bandung sebanyak 300 unit, itu kami lakukan pengamatan dari tanggal 1-9 (November 2017)," ujarnya.

Diketahui, ratusan ponsel yang disita itu tanpa IMEI terdaftar di Kementerian Perindustrian (Kemenperin). Handphone-handphone tersebut hendak dikirim dari Bandung menuju PS Store Condet, Jakarta Timur (Jaktim).

Saat itu, Putra Siregar selaku bos PS Store sudah masuk radar Bea-Cukai. Penyidik Bea-Cukai Bandung berkoordinasi dengan Bea-Cukai Jakarta untuk memantau pergerakan toko PS Store di Condet.

"Tepatnya 10 November 2017 dini hari jam 13.30 WIB kami melakukan penindakan mobil putih, mobil bawa HP dari Batam dan melakukan transaksi di toko (PS Store) Condet," kata Putra.

Sebanyak 607 unit ponsel disita Bea Cukai. Setelah dicek, ponsel-ponsel tersebut juga tanpa IMEI resmi.

Selain itu, majelis hakim pun mencecar terkait lamanya penindakan dari Bea-Cukai hingga kasus tersebut masuk persidangan. Hakim bertanya soal kendala yang dihadapi Bea-Cukai.

"Ini kan tertangkap tangan 2017, ini baru masuk persidangan 2020. Ada tiga tahun kasus nggak jalan. Kendalanya di mana?" tanya seorang hakim.

"Kami menyelesaikan bukan 1 kasus, ada berbagai kasus yang kami periksa dan kendala ketika ada rotasi (di Bea Cukai)," jawab Frankie.

Putra Siregar bin Imran Siregar didakwa melakukan penimbunan dan menjual barang impor di luar wilayah kepabeanan. Jaksa menilai perbuatan Putra merupakan tindak pidana.

Putra didakwa melanggar Pasal 103 huruf d UU RI Nomor 17 tahun 2006 tentang Perubahan dan UU RI Nomor 10 Tahun 1995 tentang Kepabeanan.

Simak video 'Alasan Bos PS Store Tak Ajukan Eksepsi':

[Gambas:Video 20detik]



(isa/jbr)