Polisi: Tarif Aborsi di Klinik Raden Saleh Jakpus Variatif, Sesuai Usia Janin

Yogi Ernes - detikNews
Selasa, 18 Agu 2020 15:54 WIB
Polisi rilis kasus aborsi ilegal di Senan, Jakpus
Polisi membongkar praktik aborsi di klinik di Raden Saleh, Jakpus. (Yogi Ernes/detikcom)
Jakarta -

Polisi membongkar praktik aborsi di sebuah klinik di Jalan Raden Saleh, Senen, Jakarta Pusat. Tarif untuk aborsi di klinik tersebut bervariatif, tergantung usia kehamilan pasien.

"Masalah biaya sangat bergantung pada besar atau usia janin," kata Direktur Reskrimum Polda Metro Jaya Kombes Tubagus Ade Hidayat saat jumpa pers di Polda Metro Jaya, Jakarta, Selasa (18/8/2020).

Adapun tarif aborsi tersebut digolongkan ke dalam empat kategori usia kandungan, mulai 6-7 minggu, 7-10 minggu, 10-12 minggu, dan 15-20 minggu.

"Biayanya sangat bergantung pada tingkat kesulitan daripada pemeriksaan awal, baik pemeriksaan medis maupun pemeriksaan USG," jelas Tubagus.

Klinik tersebut sudah beroperasi selama 5 tahun. Berdasarkan catatan yang ditemukan polisi di klinik tersebut, suah ada ribuan pasien yang melakukan aborsi di klinik selama Januari 2019-April 2020.

"Klinik tersebut sudah operasi selama 5 tahun dan yang paling unik, dalam data yang kita lakukan penggeledahan ini, didapatkan, terhitung mulai Januari 2019-10 April 2020, terdatakan pasien aborsi sebanyak 2.638 pasien," jelas Tubagus.

Berdasarkan data tersebut, diperkirakan klinik tersebut melakukan tindakan aborsi kepada 5-7 pasien setiap harinya.

"Belum lagi kalau kita merunut ke belakang, kalau asumsinya itu adalah 5 tahun klinik itu beroperasi. Namun data dari 2019-April 2020 sebanyak 2.638 pasien," kata Tubagus.

Lebih lanjut Tubagus mengatakan para pasien datang ke klinik dengan menghubungi call center terlebih dahulu dan membuat janji. Ada pula yang datang langsung ke klinik tersebut.

"Mekanismenya adalah pasien telpon ke call center atau langsung datang ke klinik atau janjian kemudian pasien dijemput," katanya.

Setelah itu pasien mendaftar di resepsionis. Selanjutnya dilakukan pemeriksaan terhadap pasien, termasuk pemeriksaan USG.

"Ada tujuh step sampai pelaksanaan aborsi," imbuhnya.

Dalam kasus ini, polisi telah menangkap 17 orang tersangka. Mereka terdiri atas 3 dokter, 1 bidan, 2 perawat, 4 pengelola klinik, 4 orang turut membantu melakukan, serta 3 pasien dan pengantar.

Kasus ini diungkap oleh Tim Subdit Resmob di bawah pimpinan AKBP Handik Zusen, Kanit I Subdit Resmob AKP Herman Edco Simbolon, Kanit III AKP Mugia Yarry Juanda, Kanit IV AKP Noor Margantara dan Kanit V AKP Rulian Syauri. Kasus ini terbongkar setelah polisi melakukan pendalaman terharap Sari Sadewa, tersangka kasus pembunuhan WN Taiwan di Bekasi.

Berdasarkan pengakuan Sari Sadewa, dia membunuh Hsu Ming Hu karena merasa sakit hati pernah dihamili. Tersangka juga mengaku bahwa korban memberinya uang Rp 15 juta untuk aborsi kandungan pada 2018. Dari situ, polisi mengusut klinik aborsi tersebut yang terletak di Jalan Raden Saleh, Senen, Jakarta Pusat.

(mea/mea)