Ganjil Genap Dinilai Tak Efektif Tekan Angka Penyebaran Corona di DKI

Dwi Andayani - detikNews
Kamis, 13 Agu 2020 07:51 WIB
Pakar tata kota
Pakar tata kota Nirwono Joga (Foto: Muhammad Ridho)
Jakarta -

Penerapan sistem ganjil genap di DKI Jakarta saat masa PSBB transisi telah berjalan selama sepekan. Namun, penerapan ganjil genap dinilai tidak efektif menekan angka penyebaran virus Corona.

"Ganjil genap tidak efektif baik sebelum maupun selama pandemi ini," ujar pakar tata kota Nirwono Joga kepada wartawan, Rabu (12/8/2020).

Nirwono mempertanyakan, maksud penerapan ganjil genap yang dilakukan secara menyeluruh. Menurutnya, bila hal ini untuk memaksa masyarakat menggunakan transportasi umum maka justru dapat menjadi bumerang dengan peningkatan penyebaran COVID-19.

"Penerapan ganjil genap secara menyeluruh tujuan apa? Kalau mengurangi kemacetan lalin terbukti tidak efektif. Jika mendorong atau memaksa masyarakat beralih ke transportasi masal juga akan menjadi bumerang, karena akan terjadi penumpukan penumpang terutama di pagi atau berangkat dan sore atau pulang. Baik di halte atau stasiun maupun di dalam angkutan umum yang akan memancing peningkatan penyebaran COVID-19," kata Nirwono.

Dia menuturkan, pada saat ini Pemda DKI seharusnya mendorong masyarakat untuk tetap beraktivitas di rumah. Hal ini karena menurutnya, protokol kesehatan di perkantoran belum dijalankan dengan ketat.

"Dalam kondisi masih pandemi tinggi, Pemda DKI tetap harus mendorong masyarakat untuk tetap bekerja dan belajar di rumah saja," kata Nirwono.

"Penerapan protokol kesehatan di perkantoran juga tidak dijalankan dengan ketat terbukti dari muncul klaster-klaster baru di perkantoran pemerintah atau swasta," sambungnya.

Nirwono mengaku tak setuju penerapan ganjil genap yang diterapkan. Dia juga menilai penerapan ini justru menunjukkan kepanikan pemda DKI dalam mengatasi COVID.

"Tidak setuju penerapan ganjil genap di semua jalan di DKI. Dishub harus melakukan kajian yang mendalam terlebih dahulu, tidak asal mewacanakan. Ini menunjukkan kepanikan Pemda DKI yang tidak mampu mengendalikan penyebaran COVID-19 di ibu kota," pungkasnya.

(dwia/zak)