PD soal Analisis Prabowo Gantikan Ma'ruf Amin: Mimpi di Siang Terik

Dwi Andayani - detikNews
Kamis, 13 Agu 2020 07:37 WIB
Jansen Sitindaon (dok. pribadi)
Foto: Wasekjen PD Jansen Sitindaon (dok. pribadi)
Jakarta -

Analisis yang menyebut Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto bisa menggantikan Ma'ruf Amin menjadi wapres di tengah jalan viral. Partai Demokrat (PD) menyinggung perumpamaan 'bagaikan mimpi di siang bolong'.

"Lebih baik mari sekarang kita konsentrasi menghadapi COVID dan pantau jalannya pemerintahan ini agar bekerja efektif mengurus bangsa ini. Dibanding bahas-bahas politik kekuasaan yang tak jelas sumber, ujung pangkal dan landasannya. Terlalu mengada-ngada dan mimpi di siang terik," kata Wasekjen Partai Demokrat Jansen Sitindaon saat dihubungi, Rabu (12/8/2020).

Jansen menyayangkan masih ada pihak yang 'kasak kusuk' kekuasaan di tengah pandemi seperti saat ini. Di lain hal, dia menilai kondisi Ma'ruf saat ini masih bugar.

"Di tengah banyaknya masalah bangsa ini terus kita sibuk 'kasak kusuk' bahas politik kekuasaan. Apa tidak capek? Padahal, hasil pemilu kemarin saja baru jalan 10 bulan dan Pak Maruf Amin juga bugar dan sehat walafiat," terang Jansen.

"Sudahlah, di posisi kita masing-masing mari kita hargai hasil Pemilu kemarin. Sudah itu yang terbaik untuk bangsa ini ketimbang kita bahas gosip-gosip tidak jelas," imbuhnya.

Jansen menyebut Ketua Majelis Tinggi PD, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) selalu mengajarkan bahwa harus berpijak pada konstitusi. PD, sebut dia, menghargai hasil Pilpres 2019.

"Sebagaimana ajaran Pak Susilo Bambang Yudhoyono yang menjadi prinsip dari setiap sikap Demokrat, sikap kami sepenuhnya berpijak kukuh pada konstitusi dan menghargai hasil pemilu yang sah," tuturnya.

Diketahui, analisis Dosen Universitas Negeri Jakarta (UNJ), Ubedilah Badrun menyatakan Prabowo Subianto bisa menggantikan Ma'ruf Amin sebagai Wapres viral dan menuai beragam tanggapan. Ubedilah mengatakan analisisnya itu merupakan sebuah tafsir politik.

Diminta konfirmasi mengenai analisisnya itu, Ubedilah menjelaskan tafsir politiknya itu bermula dari mendadaknya proses pemilihan Ma'ruf Amin sebagai pendamping Presiden Joko Widodo (Jokowi) pada Pilpres 2019. Padahal, kala itu, ada Mahfud Md yang disebut telah disiapkan sebagai calon wakil presiden.

"Tentu secara politik, dalam tafsir politik ya, PDIP sebagai pendukung Jokowi cukup tidak beruntung kalau wapresnya Mahfud Md. Karena kan 2024 Jokowi tidak bisa mencalonkan lagi. Karena posisi wapres itu menjadi sangat penting untuk periode 2019-2024. Karena dia menjadi orang kedua di republik ini yang mobilitasnya mesti tinggi dan kemudian dia bisa melakukan apa yang disebut dengan imaging policy ya jadi dengan kegiatannya, langkah-langkahnya dia akan membentuk citra yang memungkinkan untuk ikut kontestasi 2024. Kalau Mahfud Md kan nanti yang diuntungkan PKB atau partai-partai yang lain. PDIP tidak beruntung," tutur Ubedilah ketika dihubungi, Rabu (12/8).

Sementara itu, Gerindra menyatakan analisis tersebut tak benar. Juru bicara Gerindra Habiburokhman mengatakan Prabowo kompak bersama dengan kabinet Presiden Joko Widodo (Jokowi). Dia meminta jangan ada pihak yang mengadu domba hubungan harmonis Prabowo dengan Ma'ruf Amin.

"Nggak benarlah," kata Habiburokhman kepada wartawan, Rabu (12/8).

Tonton video 'Elektabilitas Capres Versi Charta Politika: Prabowo, Ganjar, Anies Unggul':

[Gambas:Video 20detik]



(dwia/zak)