Golkar soal Analisis Prabowo Gantikan Ma'ruf Amin: Tak Etis!

Rolando Fransiscus Sihombing - detikNews
Rabu, 12 Agu 2020 17:41 WIB
Ketua DPP Partai Golkar Ace Hasan
Ace Hasan Syadzily (Rolando/detikcom)
Jakarta -

Partai Golkar menanggap analisis viral yang menyebut Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto bisa menggantikan Ma'ruf Amin menjadi Wapres tak etis. Golkar meminta tak perlu berspekulasi yang mengada-ada.

"Jangan berasumsi dan berpikir yang tidak-tidaklah. Pemerintahan Jokowi-KH Ma'ruf sedang fokus untuk menangani COVID-19," kata Ketua DPP Golkar Ace Hasan Syadzily kepada wartawan, Rabu (12/8/2020).

Menurut Ace, saat ini pemerintah tengah fokus menangani penyebaran virus Corona atau COVID-19. Analisis soal Prabowo dapat menggantikan Ma'ruf pun dinilai tak perlu diungkap ke publik.

"Situasi saat ini di tengah pandemi COVID-19 membutuhkan penanganan yang fokus terutama untuk menjaga agar kita dapat menahan laju pelambatan ekonomi sebagai dampak dari penyebaran COVID di seluruh dunia," ucap Ace.

"Spekulasi politik seperti itu sesungguhnya tidak etislah dikemukakan," tegasnya.

Ace mengungkapkan Ma'ruf Amin hingga kini masih menjalankan jabatannya sebagai Wapres. Dia berharap Ma'ruf Amin tetap sehat menjalankan tugasnya tersebut.

"Alhamdulillah, Abah Kyai Ma'ruf masih sehat walafiat. Beliau masih menjalankan tugasnya sebagai Wakil Presiden dengan prima. Kita selalu mendoakan kepada seluruh pemimpin kita agar sehat walafiat dalam menjalankan tugas di masa yang amat berat ini," imbuhnya.

Analisis Dosen Universitas Negeri Jakarta (UNJ), Ubedilah Badrun, yang menyatakan Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto bisa menggantikan Ma'ruf Amin sebagai Wapres viral dan menuai beragam tanggapan. Ubedilah mengatakan analisisnya itu merupakan sebuah tafsir politik.

Diminta konfirmasi mengenai analisisnya itu, Ubedilah menjelaskan tafsir politiknya itu bermula dari mendadaknya proses pemilihan Ma'ruf Amin sebagai pendamping Presiden Joko Widodo (Jokowi) pada Pilpres 2019. Padahal, kala itu, ada Mahfud Md yang disebut telah disiapkan sebagai calon wakil presiden.

"Tentu secara politik, dalam tafsir politik ya, PDIP sebagai pendukung Jokowi cukup tidak beruntung kalau wapresnya Mahfud Md. Karena kan 2024 Jokowi tidak bisa mencalonkan lagi. Karena posisi wapres itu menjadi sangat penting untuk periode 2019-2024. Karena dia menjadi orang kedua di republik ini yang mobilitasnya mesti tinggi dan kemudian dia bisa melakukan apa yang disebut dengan imaging policy ya jadi dengan kegiatannya, langkah-langkahnya dia akan membentuk citra yang memungkinkan untuk ikut kontestasi 2024. Kalau Mahfud Md kan nanti yang diuntungkan PKB atau partai-partai yang lain. PDIP tidak beruntung," tutur Ubedilah ketika dihubungi, Rabu (12/8).

Sementara itu, Gerindra menyatakan analisis tersebut tak benar. Juru bicara Gerindra Habiburokhman mengatakan Prabowo kompak bersama dengan kabinet Presiden Joko Widodo (Jokowi). Dia meminta jangan ada pihak yang mengadu domba hubungan harmonis Prabowo dengan Ma'ruf Amin.

"Nggak benarlah," kata Habiburokhman kepada wartawan, Rabu (12/8).

(rfs/gbr)