Gibran soal 'Gerakan Kotak Kosong' di Solo: Masih Ada Calon Independen

Luqman Nurhadi Arunanta - detikNews
Rabu, 12 Agu 2020 14:57 WIB
Gibran Rakabuming dan Teguh dapat SK Dukungan Golkar
Gibran Rakabuming (Luqman/detikcom)
Jakarta -

Muncul gerakan kotak kosong di Pilkada Solo 2020 menyusul besarnya kekuatan politik putra Presiden Joko Widodo (Jokowi), Gibran Rakabuming Raka, yang berpasangan dengan Teguh Prakosa. Gibran pun menepis gerakan kotak kosong yang kini tengah digaungkan sejumlah aktivis di Solo itu.

"Nggak kotak kosong kok, itu masih ada calon independen yang masih berjuang," ungkap Gibran Rakabuming setelah menerima surat keputusan (SK) dukungan dari Golkar di kantor DPP Golkar, Jalan Anggrek Neli Murni, Jakarta Barat, Rabu (12/8/2020).

Bakal calon perseorangan Pilkada Solo 2020 yang disebut Gibran adalah Bagyo Wahyono-FX Supardjo (Bajo). Keduanya sudah mendaftar sebagai peserta Pilkada Solo dan sudah melalui proses verifikasi administrasi di Pilkada Solo 2020.

Meski ada pasangan Bajo, penggerak gerakan kotak kosong untuk melawan Gibran Rakabuming terus berkampanye. Mereka menangkap sinyal politik dinasti dan oligarki karena Gibran-Teguh berpotensi menjadi calon tunggal. Gibran menampik hal tersebut.

"Kok bilang kotak kosong dari mana itu," tuturnya.

Penggagas gerakan kotak kosong di Pilwalkot Solo 2020 mulai tokoh kampus, pemerhati kota, seniman, hingga budayawan. Namun gerakan ini masih berupa spontanitas dan belum terorganisasi.

Salah satu penggerak kotak kosong melawan Gibran ialah aktivis budaya Zen Zulkarnaen. Dirinya sudah aktif mengampanyekan kotak kosong melalui media sosial maupun dalam diskusi informal.

"Penggeraknya dari kaum intelektual kota, kampus, seniman, budayawan. Yang jelas, tidak terikat dengan partai politik dan calon tertentu. Saat ini masih belum masif, hanya lewat media sosial dan diskusi informal saja," kata Zenzul, sapaannya, saat ditemui di kawasan Banjarsari, Solo, Jumat (7/8).

Sementara itu, pasangan independen di Pilkada Solo, Bako, mengaku kerap mendapat komentar miring atas niatnya melawan Gibran. Mereka dianggap sebagai pasangan calon boneka yang digunakan untuk menjadi penantang Gibran-Teguh.

"Kita tidak boneka, kita tidak setting-an, kita tidak pernah berkomunikasi dengan partai politik dan siapa pun karena benar-benar kami murni. Bahkan saya warning kalau Pak Bagyo dan Pak Supardjo menerima uang, akan saya hentikan (dukungan) pilkada," tegas Ketua ormas pengusung Bajo, Tikus Pithi Hanata Baris, Tuntas Subagyo, Selasa (4/8).

Kekuatan politik Gibran di Solo sendiri sudah sangat 'gendut'. Setelah mendapat dukungan dari PDIP dan Gerindra, hari ini Gibran-Teguh menerima rekomendasi resmi dukungan dari Golkar dan PAN.

Di Solo, PDIP memiliki kekuatan mayoritas dengan memiliki 30 kursi di DPRD. Modal dari kursi PDIP saja sudah cukup untuk menjadi syarat pendaftaran ke KPUD Solo.

Gerindra, Golkar, dan PAN masing-masing memiliki 3 kursi di DPRD Solo. Sementara itu, PSI, yang memiliki 1 kursi, juga sudah menyatakan dukungannya.

(elz/imk)